Monday, 2 September 2013

Chapter 01 - Post 1

Bagian 1 : Planet Biru

Chapter 01 : Pergi dan Jatuh

Post 1

Berjuta planet berada di dalam galaksi yang luas ciptaan tuhan ini. Milyaran bintang, asteroid, dan bahkan berbagai macam matahari ada di dalam berbagai galaksi yang berbeda di luar angkasa yang luas ini. Bintang bintang yang bersinar, planet-planet yang di tinggali oleh berbagai macam makhluk yang berbeda pun jumlahnya tidak sedikit. Bahkan tidak sedikit pula bintang atau planet-planet yang telah mati menjadi sebuah lubang hitam ataupun kegelapan yang menyerap segalanya.  Ledakan terjadi dimana-mana, tepatnya di sebuah planet yang sangat jauh dari galaksi dimana bumi ini berada. Peperangan telah terjadi diplanet itu, mereka tidak lain adalah apa yang di sebut manusia di bumi ‘Alien’.  Mereka lebih terlihat seperti sebuah robot dan monster-monster yang sedang berperang.


Planet ini berbentuk bulat seperti planet-planet pada umumnya. Memiliki cincin raksasa yang mengitarinya dan memiliki planet yang berukuran setengahnya masih pada poros yang sama dengan planet yang memiliki cincin, kedua planet yang hidup berdampingan ini sama-sama dapat ditinggali. Sistem antara planet yang memiliki satu matahari dengan galaksi mereka namakan ‘Blue Horse’ ini menggunakan gerbang teleportasi yang mereka buat sebagai hubungan antar planet agar mereka tidak perlu menggunakan pesawat untuk pergi ke planet yang berseberangan ini. Bangsa pribumi menamai planet ini dengan nama Golden Ring dan Fertile atau seantero galaksi menyebutnya Twin Stars.

Makhluk pribumi yang di sebut sebagai Ori disini memiliki kemampuan yang bisa memisahkan kepala dan tubuh mereka, semua bagian tubuh kulit terbuat dari bahan yang berbentuk seperti metalik berwarna silver yang di cat berdasarkan warna yang mereka inginkan. Membuat mereka lebih berbentuk seperti robot yang menyerupai manusia dengan tangan dan kaki juga jari-jari yang sama seperti manusia. Kepala mereka dapat terlepas dari tubuh mereka dan terbang dengan batas maksimal 5 meter dari pijakan mereka, berbentuk seperti topeng yang melengkung ke arah belakang dengan ventuk yang beragam dan tipisnya yang hanya mencapai 5 cm atau bahkan setipis layar LCD keluaran lama. Mata mereka berbentuk segitiga yang lancip di ujung dekat telinga mereka yang hanya terdapat lubang-lubang kecil seperti lubang udara. Tidak memiliki hidup dan mulut namun dapat berbicara dan tidak membutuhkan oksigen untuk bernafas dan keseluruhan tubuh membuat makhluk ini terlihat seperti benar-benar robot  manusia.

Bangsa pribumi ini kebanyakan menempati planet Golden Ring meskipun mereka suku asli dari kedua planet tersebut. Sedangkan bangsa penjajah planet ini berbentuk seperti monster-monster yang berasal dari planet yang beragam. Sudah lama kedua planet ini kedatangan banyak makhluk dari planet lain. Peradaban planet ini terbilang sudah modern meskipun ukurannya tidak sebesar planet Bumi. Planet Golden Ring memiliki banyak sekali gedung-gedung tinggi dan modern dengan alat-alat transportasi yang cukup canggih. Sedangkan planet Fertile memiliki pemandangan alam yang benar-benar hijau layaknya padang rumput dan hutan-hutan di Planet Bumi. Tapi bukan berarti taraf penduduk planet Fertile lebih rendah dari Golden Ring, pemerintahan mereka tidak memiliki negara-negara layaknya Bumi, mereka memilih satu orang mereka sebagai pemimpin planet dan membuat lembaga pemerintahan atas nama planet-planet mereka.

Cerita ini berawal dari sebuah stasiun besar di luar angkasa bernama Space Atlantic. Stasiun tempat dimana armada pesawat-pesawat luar angkasa dari kedua planet itu berada meskipun letaknya berada pada poros Planet Golden Ring. Berbentuk oval dan banyak kapsul besar yang tersambung dengan lorong pipa yang besar juga, di dominasi berwarna silver dan garis merah pada setiap sisinya. Di sisi pusat stasiun ini terdapat logo dari Space Atlantic itu sendiri dengan gambar sebuah pesawat segitiga lonjong dengan kedua roket dengan bentuk yang sama di kedua sisinya.

Saat itu, Space Atlantic di serang oleh para penjajah planet atau yang mereka sebut Kaum Giral. “mereka datang menyerang!” teriak salah seorang makhluk Ori yang bertugas di stasiun luar angkasa tersebut. Banyak pesawat-pesawat kecil berbentuk tabung dengan banyak senapan menembaki Space Atlantic yang besar dan megah itu. Ledakan terjadi di sekitar stasiun itu. Beberapa pesawat kecil mendarat, beberapa makhluk bertopeng oksigen keluar dan menembaki para pekerja disana.

Para Ori berlarian kemana-mana, beberapa tertembak di kepalanya yang memang merupakan letak nyawa mereka. Beberapa Ori mencoba memisahkan kepalanya agar bisa terbang dan bergerak lebih leluasa. Salah satunya terbang menuju tangga darurat, namun seorang tentara Giral menyadarinya dan langsung menembaknya dengan senapan laser tepat mengenainya. Beberapa kepala Ori juga bersembunyi di tempat-tempat kecil yang tak terlihat dari para penyerang Giral. Di salah satu lorong penghubung, beberapa Ori dengan sekuat tenaga berusaha memperlambat pasukan Giral dari lorong utama untuk masuk ke tempat-tempat berikutnya, beberapa Ori memegang senjata siap untuk berperang sambil menunggu gerbang akan di dobrak. Gerbang penghubungpun di dobrak, terjadi beberapa bentrokan di banyak lorong penghubung, beberapa tentara Giral pun jatuh, tapi jumlah itu masih sedikit di bandingkan dengan Ori yang terjatuh. Banyak tentara Giral menghancurkan mesin dan sistem dalam stasiun luar angkasa itu.

Di satu sisi Space Atlantic ini, sebuah pesawat berbentuk segitiga yang besar, dengan kedua tenaga roketnya yang yang berbentuk segitiga samakaki yang lonjong bertuliskan SA 011 segera lepas landas. “kau harus temukan mereka, sang pencipta planet ini yang berada dalam sistem bima sakti disana” salah seorang pemimpin dari Space Atlantic yang di kenal dengan nama Atlas, Ori yang paling disegani di Space Atlantic dengan bentuk kepala yang lonjong berwarna keemasan dengan mata merah menyala berpesan kepada kapten SA 011.

“Aku mengerti, Komander” jawab kapten SA 011, bernama Astro, segera memimpin keberangkatan tim SA 011. Astro memiliki kepala berbentuk sedikit lonjong dengan satu bagian lancip di atasnya seperti tanduk dan mata yang sama seperti Ori lainnya dengan warna merah matanya dan silver pada tubuh wajahnya, sedangkan tubuh metaliknya di tutupi jaket berwarna biru gelap. Ruangan pengendali dalam SA 011 tidak cukup luas, hanya berisi 5 orang dengan kursi depan tengah yang di duduki kapten Astro dengan kaca yang panjang mengelilingi depan ruangan itu yang menghubungkan langsung dengan kondisi di depan. “SA 011 akan berangkat dalam hitungan mundur 3,2,1” roket kanan dan kiri pun segera menyala. Menara penerbangan di sisi kanan pesawat segera mengkonfirmasi penerbangan pesawat itu. Penutup Space Atlantic atas di buka. Tiba-tiba pasukan Giral telah mencapai pangkalan bawah.

“Hentikan pesawat itu!” kata seseorang pemimpin penyerangan dari dalam sebuah pesawat di luar Space Atlantic memerintahkannya kepada pasukan penyerangan. Makhluk bertubuh tinggi 2 meter dan besar ini memiliki tanduk kecil di kepalanya, berkulit hijau memakai pakaian dan jaket bertudung warna hitam. “tidak ada yang boleh kabur dari penyerangan ini, semua harus di hancurkan, Derg! menuju pintu tempat pesawat itu keluar!” perintah kapten itu kepada pilot pesawatnya. Pasukan giral ini di dominasi oleh makhluk seperti kapten pesawat mereka. Pesawat induk penyerangan memiliki bentuk yang tidak jauh berbeda dari pesawat penyerang lainnya, hanya sedikit lebih besar dari pesawat penyerang lainnya. Ruangan pilot mereka pun tidak terlalu besar, hanya di isi oleh 2 orang pilot dengan jendela bulat ke depan dan Kapten di belakangnya.

Sementara itu penyerang yang sudah mencapai pangkalan bawah dari SA 011 yang di berangkatkan, segera menuju menara tempat ruang pengendali berada sekaligus menghancurkan tempat-tempat penting yang membuat pesawat itu bisa keluar. Salah seorang pasukan dengan peralatannya yang canggih, sebuah senapan besar dengan peluru laser menembaki bagian sumber daya listrik dan kabel-kabel yang terhubung ke arah pintu keluar pesawat SA 011 diatas. Listrik pun mati dalam sekejap, pembangkit cadangan di nyalakan, tapi beberapa pasukan segera mendobrak masuk ruangan pengendali, menembak komander dan orang-orang disana. Seseorang dari pasukan giral mencoba mengendalikan pintu tempat keluarnya pesawat untuk segera menutupnya dari menara pengendali.

“Kapten, pintu menutup kembali.” Kata salah seorang pilot dari pesawat SA 011 kepada kapten Astro. “nyalakan kekuatan penuh.” Perintah kapten Astro. SA 011 segera terbang ke atas dengan kecepatan penuh pada landasan pacu yang berbentuk prisma segi delapan ke atas. Gerbang akan segera tertutup. Roket pada sisi pesawat sudah menyala. Beberapa pasukan giral terus menembaki roket pesawat dari bawah. Sudah sampai pada batas teratas roket pada sisi kanan dan kiri pesawat bergesekan dengan gerbang keluar. Sedikit kerusakan pada kedua sisi bagian pesawat itu tidak membuat pesawat itu jatuh begitu saja. “Mekanik, segera perbaiki sisi pesawat yang rusak”. Perintah kapten Astro dengan berbicara melalui mikrofon menuju ruang mekanik. Tanpa mereka sadari, mereka di hujani hujan peluru dari arah samping kanan mereka. “itu Metrog, kapten!” kata salah seorang pilot.

Pesawat yang dinamakan Metrog yang di kendalikan oleh kapten dari pemimpin pasukan giral yang menyerang Space Atlantic telah tiba lebih dulu di sisi lain tempat SA 011 keluar. “tidak perlu ladeni mereka, aktifkan gelombang kecepatan warp tenaga penuh” perintah kapten Astro kepada para pilot. “Jeaners! Perintah penembakan kepada Metrog!” perintah kapten Astro kepada para Jeaners, mereka adalah divisi yang mengendalikan senjata tembakan pesawat. Tanpa ragu, SA 011 kembali menyerang balik Metrog. Sambil memutar ke arah sebaliknya, SA 011 bersiap meluncur dengan kecepatan cahaya. “Warp penuh di aktifkan.” Kata salah seorang pilot SA 011.

“Jangan biarkan mereka kabur!” kata kapten pesawat Metrog, tapi terlambat, SA 011 sudah menghilang dari hadapan mereka. “pesawat ini tidak memiliki kecepatan warp untuk mengejar mereka kapten.” Salah seorang pilot memberitahu. “ya, aku tahu itu. Segera siapkan pendaratan ke Space Atlantic.” Pesawat itu pun segera mencari tempat pendaratan.

“Bagaimana kondisi di sini!” tanya kapten pesawat Metrog tadi sambil berjalan menuju ruangan tempat pengendali, dimana Komander Atlas tertembak di sekap. “Semua sudah dalam kendali kapten.” Jawab anak buahnya. Kapten ini berjalan melewati koridor yang panjang di penuhi jasad-jasad Ori. “sesampainya di sana, segera cari tahu kordinat tempat pesawat itu pergi.” Perintah kapten.

“Apa kabar Komander Atlas sepertinya nasibmu tidak begitu baik hari ini.” kata kapten yang jenisnya disebut Horigan itu.

“Kapten pesawat Metrog, Throgan. Mantan Kapten SA 011, sedih bukan melihat mantan pesawatmu telah memiliki kapten lain.” Kata komander Atlas, terikat di sebuah kursi dengan tanduk dan kepalanya yang juga telah di ikat dengan bahan metalik berbentuk persegi panjang, membuat Atlas tidak bisa kabur dari tubuhnya karena ia juga seorang Ori.

“Kemana mereka pergi.” Tanya Throgan.

“Aku tidak akan menjawabnya.” Kata Atlas

“Ku pikir ini akan berjalan mudah, ternyata. Hem” Throgan tertawa kecil. “Periksa kordinat pemberangkatan.” Perintah Throgan kepada anak buahnya.

“Dapat kapten! ini dia.”  Kata seorang anak buahnya.

“Kau tidak akan bisa mengejar mereka. Komputer! All Siege Destruction!” teriak Atlas.
“Kode suara di terima, perintah di aktifkan. Space Atlantic akan meledakan diri dalam 5 menit”. Suara Komputer Space Atlantic membuat semua orang didalamnya panik.

“Apa! Kau berniat bunuh diri! Kirim kordinat tadi ke Giral Mountain!” perintah kapten Throgan kepada anak buahnya.

“Kau tidak akan bisa lari dari sini lagi Throgan.” Kata Atlas.

“Cih! Nikmati saja kematian mu saat ini. Dan kau yang membuat semua ini.” Kata Throgan. “segera kosongkan tempat ini. Menjauh dan keluar” perintah Throgan kepada pasukannya sambil bersama-sama lari keluar ruangan menuju pesawat mereka mendarat.

“Waktumu tidak akan cukup throgan! Kau juga akan mati disini. Hahahahaha.” Teriak komander Atlas sambil tertawa.

“3 menit” suara komputer Space Atlantic. Seluruh pasukan Giral berlarian menuju pesawat mereka masing-masing. Kapten Throgan berlari melalui koridor tadi menuju pesawatnya. Seluruh pintu keluar tertutup dengan sendirinya, beberapa pesawat yang sudah terbang mencoba membuat lubang di dinding yang terlihat tipis dan lemah menggunakan tembakan yang ada di pesawat mereka. “2 menit”. Throgan sampai di pesawatnya, segera mencoba terbang kembali. “1 menit, hitungan mundur di mulai, 59, 58,....” Throgan dan seluruh pasukannya mulai panik. Pesawat yang dari tadi sudah terbang mencoba melubangi dinding, tapi belum berhasil.

“Aktifkan bazoka penghancur!” kata Throgan. Bazoka laser penghancurpun di aktif kan, keluar dari lubang tengah sisi depan Metrog. Dinding pun sedikit terbuka, tapi, masih belum cukup untuk seukuran Metrog. “sekali lagi!” perintah Throgan. “20, 19, ....” dinding pun terbuka, pesawatpun semua keluar melalui lubang itu dengan kecepatan penuh Metrog keluar dari Space Atlantic. “10, 9, 8,...” . “apa kordinat tadi sudah di terima?” tanya Throgan kepada pilot yang mengendalikan pesawat yang juga mengirim kordinat pesawat SA 011 pergi tadi. “sudah kapten.” Jawab pilot itu. “Bagus.” Jawab Kapten Throgan sambil tersenyum. Metrog pun berhasil keluar, Space Atlantic meledak, namun ledakannya menghasilkan efek yang sangat jauh sehingga pesawat-pesawat giral pun tergilas oleh ledakannya.

Space Atlantic, tanggal 15 bulan Donquarter tahun 4032, 22.05 waktu dalam Golden Ring. Telah musnah akibat serangan dari Pasukan Giral dan bom bunuh diri. Tanggal, bulan dan tahun itu adalah, waktu dalam kehidupan Golden Ring dan Fertile yang juga di sebut Twin Time.

No comments:

Post a Comment