Saturday, 18 January 2014

Chapter 01 - Post 2

Bagian 1 : Planet Biru

Chapter 01 : Pergi dan Jatuh

Post 2

Planet Bumi, terkenal sebagai Planet Biru di susunan tata surya Bima Sakti. Di tempati berbagai macam makhluk hidup dengan di dominasi oleh lautan sebagai inti dari kehidupannya. Manusia adalah makhluk paling pintar dan paling berkuasa di planet ini. Terdapat lebih dari 3 benua besar di dalamnya. Banyak sekali macam dari Manusia itu sendiri mulai dari warna kulit, bentuk mata mereka, tinggi, ras, bahkan lebih dari 100 negara berada di Bumi yang luas ini.




Suatu tempat di Bumi, kota yang tak terlalu besar di sebuah negara maju, Verdant City, kota yang sebagian besar masih berupa kota yang hanya ramai pada pusatnya, sedangkan banyak masyarakat yang memiliki lahan luas untuk berkebun, ekonomi penduduknya pun masih sederhana, tidak terlalu kaya. Banyak pepohonan di sekitar gedung yang biasanya tak lebih dari 4 lantai, masih berupa kota yang masih di bangun. Di tempat itu, memiliki beberapa sekolah menengah yang tak cukup banyak, pertokoan yang masih minim, penduduknya biasa berbelanja di supermarket, jadi sudah tidak banyak lagi pasar-pasar tradisional. Di sebuah satu-satunya Universitas Negeri yang didirikan disana bernama Verdant University, sebuah koridor yang sepi pada sore hari, seorang lelaki dari fakultas Informasi Teknologi (IT) sedang di pukuli oleh 2 orang lelaki berbadan besar.



“Bodoh! Kau tidak membiarkanku mencontek kertas ujianmu!” marah seorang lelaki berbadan besar berambut pendek hitam dengan pakaian kaos merah berjaket putih bertuliskan “Verdant Basketball” dengan celana panjang hitam yang kebesaran, meninju seorang lelaki yang pipinya telah lebam dan tak berdaya di lantai.


“Kau tidak akan seperti ini jika kau memberikannya tadi.”  Sahut salah seorang temannya berambut pirang bertubuh kurus dan tinggi yang berpakaian tim basket Verdant, sama dengan seorang yang meninju temannya yang tak berdaya. “Jadi, mau kita apakan dia, Jason.”

“Jadikan saja makanan buaya yang ada di rumahmu Don.” kata Jason kepada Don.

Seseorang berjalan dari sebuah kelas terdekat, berambut hitam yang tak panjang dengan tubuh yang proporsional, memakai kemeja dan jaket hitam dan membawa tas di punggungnya, “Hey! Apa yang kalian lakukan!” teriak pria itu.

“Ayo pergi Don! Awas kau Jake!” kata Jason. Jason dan Don pun kemudian pergi meninggalkan pria bernama Jake itu duduk di lantai tak berdaya di koridor kampus.

“Hey, kau tidak apa-apa Jake?” tanya orang itu sambil menyodorkan tangannya untuk membantu Jake berdiri

“Kau pikir aku terlihat sepertia apa Ryan! Jangan pura-pura mengasihani ku. Kau sama saja seperti mereka. Dasar orang-orang tak berguna!” kata Jake sambil berusaha berdiri sendiri. Jake Rancor, mahasiswa semester 6, bertubuh kurus dan berambut hitam yang tak terlalu panjang, memiliki kecerdasan yang lebih baik dari teman-teman sekelasnya. Dia sering sekali di bully teman-temannya karena kepintaran dan tubuhnya yang lemah, menolak mengikuti olah raga apapun, membuatnya menjadi kutu buku dan penggila internet. Saat ini mukanya lebam, setetes darah keluar dari hidungnya, kemejanya terbuka terlihat kaos bergambar sebuah anime, tokoh kartun dari jepang.

“Ku pikir kau harus menjauhi mereka, begitulah sifat mereka, aku mencoba menolongmu, kenapa kau malah seperti ini?” kata Ryan sambil mencoba meraih tubuh Jake, namun Jake mendorongnya. 
Adrian Bright, teman sekelas Jake, Jason dan Don yang akrab di panggil Ryan ini adalah saudara tiri Jake, karena Ibu Jake cerai dan menikah dengan ayah Ryan, sedangkan ibu Ryan sendiri sudah lama meninggal, namun Jake tinggal bersama ayahnya. Ryan termasuk seorang pemain inti tim basket kampus seperti Jason dan Don, berambut hitam sedikit panjang dan berdiri, berwajah cerah dan tubuh tingginya tidak beda jauh dengan Jake, hanya terlihat Ryan lebih gemuk karena berolahraga.

“Tinggal kan aku sendiri! Kau sudah merebut ibuku! Lalu apalagi yang ingin kau rebut!” kata Jake.

“Baiklah, terserah apa maumu!” Ryan lalu pergi meninggal kan Jake sendirian, Ryan menuju sebuah halaman depan kampus yang luas dan tidak terlalu ramai karena memang hari sudah sore dan tidak ada jadwal kelas malam. Seseorang datang dari belakang Ryan dan menepuk pundaknya.

“Hey! Ada apa lagi dengan Jake tadi” seorang mahasiswa teman Ryan tetapi beda kelas, Tommy White atau yang biasa disapa Tom, memiliki tubuh dan rambut yang sama dengan Ryan, kadang teman-temannya mengira bahwa mereka kembar.

“Yah, kau tau kan. Sebenarnya aku sangat kasihan padanya. Tadinya mau ku ajak pulang ke rumahku untuk bertemu Ibu, kau tau kan kalau ayah nya setiap malam kerjanya hanya berjudi.” Jelas Ryan kepada Tom sambil mereka berjalan bersama keluar kampus menuju tempat parkir sepeda mereka.

“Ok, itu kan yang membuat ibunya bercerai 10 tahun silam, dan masih belum ada perubahan dengan ayahnya itu. Di tambah lagi Jake sepertinya tidak punya teman.” Kata Tom sambil membuka gembok sepedanya.

“Aku berusaha menjadi temannya, tapi sepertinya dia membenciku karena suatu hal.” Kata Ryan.

“Apapun itu, kau tidak perlu merasa bersalah dengannya, kau sudah berusaha untuk menjadi temannya bukan?” kata Tom.

“Yah oke, ku harap dia tahu kalau ibunya selalu cemas dengannya.” Jelas Ryan

“Suatu saat pasti dia tahu. Kalau begitu, aku duluan, sampai ketemu besok!” salam Tom.

“Oke, bye.” Kata Ryan sambil mengayuh sepeda meninggalkan kampus melewati gerbang kampus, ia melihat Jake keluar dari gerbang dengan kepala tertunduk, beberapa mahasiswa lainnya memperhatikannya tapi ia tidak peduli. Sepeda Ryan pun kian menjauh dari kampus.
 

No comments:

Post a Comment