Bagian
1 : Planet Biru
Chapter 01 : Pergi dan Jatuh
Post 2
Planet Bumi, terkenal sebagai Planet Biru di susunan tata surya Bima Sakti. Di tempati berbagai macam makhluk hidup dengan di dominasi oleh lautan sebagai inti dari kehidupannya. Manusia adalah makhluk paling pintar dan paling berkuasa di planet ini. Terdapat lebih dari 3 benua besar di dalamnya. Banyak sekali macam dari Manusia itu sendiri mulai dari warna kulit, bentuk mata mereka, tinggi, ras, bahkan lebih dari 100 negara berada di Bumi yang luas ini.
Planet Bumi, terkenal sebagai Planet Biru di susunan tata surya Bima Sakti. Di tempati berbagai macam makhluk hidup dengan di dominasi oleh lautan sebagai inti dari kehidupannya. Manusia adalah makhluk paling pintar dan paling berkuasa di planet ini. Terdapat lebih dari 3 benua besar di dalamnya. Banyak sekali macam dari Manusia itu sendiri mulai dari warna kulit, bentuk mata mereka, tinggi, ras, bahkan lebih dari 100 negara berada di Bumi yang luas ini.
Suatu tempat di Bumi,
kota yang tak terlalu besar di sebuah negara maju, Verdant City, kota yang
sebagian besar masih berupa kota yang hanya ramai pada pusatnya, sedangkan
banyak masyarakat yang memiliki lahan luas untuk berkebun, ekonomi penduduknya
pun masih sederhana, tidak terlalu kaya. Banyak pepohonan di sekitar gedung
yang biasanya tak lebih dari 4 lantai, masih berupa kota yang masih di bangun.
Di tempat itu, memiliki beberapa sekolah menengah yang tak cukup banyak, pertokoan
yang masih minim, penduduknya biasa berbelanja di supermarket, jadi sudah tidak
banyak lagi pasar-pasar tradisional. Di sebuah satu-satunya Universitas Negeri
yang didirikan disana bernama Verdant University, sebuah koridor yang sepi pada
sore hari, seorang lelaki dari fakultas Informasi Teknologi (IT) sedang di
pukuli oleh 2 orang lelaki berbadan besar.
“Bodoh! Kau tidak
membiarkanku mencontek kertas ujianmu!” marah seorang lelaki berbadan besar
berambut pendek hitam dengan pakaian kaos merah berjaket putih bertuliskan
“Verdant Basketball” dengan celana panjang hitam yang kebesaran, meninju
seorang lelaki yang pipinya telah lebam dan tak berdaya di lantai.
“Kau tidak akan seperti
ini jika kau memberikannya tadi.” Sahut
salah seorang temannya berambut pirang bertubuh kurus dan tinggi yang
berpakaian tim basket Verdant, sama dengan seorang yang meninju temannya yang
tak berdaya. “Jadi, mau kita apakan dia, Jason.”
“Jadikan saja makanan
buaya yang ada di rumahmu Don.” kata Jason kepada Don.
Seseorang berjalan dari
sebuah kelas terdekat, berambut hitam yang tak panjang dengan tubuh yang
proporsional, memakai kemeja dan jaket hitam dan membawa tas di punggungnya,
“Hey! Apa yang kalian lakukan!” teriak pria itu.
“Ayo pergi Don! Awas kau
Jake!” kata Jason. Jason dan Don pun kemudian pergi meninggalkan pria bernama
Jake itu duduk di lantai tak berdaya di koridor kampus.
“Hey, kau tidak apa-apa
Jake?” tanya orang itu sambil menyodorkan tangannya untuk membantu Jake berdiri
“Kau pikir aku terlihat
sepertia apa Ryan! Jangan pura-pura mengasihani ku. Kau sama saja seperti
mereka. Dasar orang-orang tak berguna!” kata Jake sambil berusaha berdiri
sendiri. Jake Rancor, mahasiswa semester 6, bertubuh kurus dan berambut hitam
yang tak terlalu panjang, memiliki kecerdasan yang lebih baik dari teman-teman
sekelasnya. Dia sering sekali di bully teman-temannya karena kepintaran dan
tubuhnya yang lemah, menolak mengikuti olah raga apapun, membuatnya menjadi
kutu buku dan penggila internet. Saat ini mukanya lebam, setetes darah keluar
dari hidungnya, kemejanya terbuka terlihat kaos bergambar sebuah anime, tokoh
kartun dari jepang.
“Ku pikir kau harus
menjauhi mereka, begitulah sifat mereka, aku mencoba menolongmu, kenapa kau
malah seperti ini?” kata Ryan sambil mencoba meraih tubuh Jake, namun Jake
mendorongnya.
Adrian Bright, teman sekelas Jake, Jason dan Don yang akrab di
panggil Ryan ini adalah saudara tiri Jake, karena Ibu Jake cerai dan menikah
dengan ayah Ryan, sedangkan ibu Ryan sendiri sudah lama meninggal, namun Jake
tinggal bersama ayahnya. Ryan termasuk seorang pemain inti tim basket kampus
seperti Jason dan Don, berambut hitam sedikit panjang dan berdiri, berwajah
cerah dan tubuh tingginya tidak beda jauh dengan Jake, hanya terlihat Ryan
lebih gemuk karena berolahraga.
“Tinggal kan aku sendiri!
Kau sudah merebut ibuku! Lalu apalagi yang ingin kau rebut!” kata Jake.
“Baiklah, terserah apa
maumu!” Ryan lalu pergi meninggal kan Jake sendirian, Ryan menuju sebuah
halaman depan kampus yang luas dan tidak terlalu ramai karena memang hari sudah
sore dan tidak ada jadwal kelas malam. Seseorang datang dari belakang Ryan dan
menepuk pundaknya.
“Hey! Ada apa lagi dengan
Jake tadi” seorang mahasiswa teman Ryan tetapi beda kelas, Tommy White atau yang
biasa disapa Tom, memiliki tubuh dan rambut yang sama dengan Ryan, kadang
teman-temannya mengira bahwa mereka kembar.
“Yah, kau tau kan.
Sebenarnya aku sangat kasihan padanya. Tadinya mau ku ajak pulang ke rumahku
untuk bertemu Ibu, kau tau kan kalau ayah nya setiap malam kerjanya hanya
berjudi.” Jelas Ryan kepada Tom sambil mereka berjalan bersama keluar kampus
menuju tempat parkir sepeda mereka.
“Ok, itu kan yang membuat
ibunya bercerai 10 tahun silam, dan masih belum ada perubahan dengan ayahnya
itu. Di tambah lagi Jake sepertinya tidak punya teman.” Kata Tom sambil membuka
gembok sepedanya.
“Aku berusaha menjadi
temannya, tapi sepertinya dia membenciku karena suatu hal.” Kata Ryan.
“Apapun itu, kau tidak
perlu merasa bersalah dengannya, kau sudah berusaha untuk menjadi temannya
bukan?” kata Tom.
“Yah oke, ku harap dia
tahu kalau ibunya selalu cemas dengannya.” Jelas Ryan
“Suatu saat pasti dia
tahu. Kalau begitu, aku duluan, sampai ketemu besok!” salam Tom.
“Oke, bye.” Kata Ryan
sambil mengayuh sepeda meninggalkan kampus melewati gerbang kampus, ia melihat
Jake keluar dari gerbang dengan kepala tertunduk, beberapa mahasiswa lainnya
memperhatikannya tapi ia tidak peduli. Sepeda Ryan pun kian menjauh dari
kampus.
No comments:
Post a Comment