Bagian
1 : Planet Biru
Post 1
Sudah 2 hari sejak kedatangan Astro di rumah, karena ia tidak terlalu merepotkan, ia tidak mandi, ia seperti robot, saat tubuhnya kotor, ada sebuah cahaya menscan dirinya sendiri sehingga ia kembali bersih. Dia juga tidak makan, minum ataupun buang air. Yang ia lakukan hanya mengotak atik komputer Ryan dan beberapa barang yang ia bawa di tambah barang rongsokan yang berhasil ia bawa ke kamar Ryan dari hasil jalan-jalan keluar selama satu malam. Astro sedang membuat pemancar yang mendeteksi jika ada pesawat penjemputnya yang datang, alat itu bentuknya seperti antena kecil dan Astro menaruhnya di atas rumah saat rumah kosong. Ryan masih sibuk dengan kuliahnya dan orang tuanya pun pergi saat pagi dan selalu pulang malam. Jadi Astro pikir ia sangat beruntung bisa bertemu dengan Ryan.
Chapter 02 : Teman dan Saudara
Sudah 2 hari sejak kedatangan Astro di rumah, karena ia tidak terlalu merepotkan, ia tidak mandi, ia seperti robot, saat tubuhnya kotor, ada sebuah cahaya menscan dirinya sendiri sehingga ia kembali bersih. Dia juga tidak makan, minum ataupun buang air. Yang ia lakukan hanya mengotak atik komputer Ryan dan beberapa barang yang ia bawa di tambah barang rongsokan yang berhasil ia bawa ke kamar Ryan dari hasil jalan-jalan keluar selama satu malam. Astro sedang membuat pemancar yang mendeteksi jika ada pesawat penjemputnya yang datang, alat itu bentuknya seperti antena kecil dan Astro menaruhnya di atas rumah saat rumah kosong. Ryan masih sibuk dengan kuliahnya dan orang tuanya pun pergi saat pagi dan selalu pulang malam. Jadi Astro pikir ia sangat beruntung bisa bertemu dengan Ryan.
Satu Minggu pun berlalu
sampai pada suatu jam tengah malam Astro menemukan tanda 2 buah pesawat datang
mendekati kota yang kini di tempatinya. Astro ingin sekali keluar mencari
rekannya, tapi Ryan melarangnya dan menyuruhnya untuk bersabar sampai besok
pagi. Pagi harinya, mereka mendengar berita sebuah pesawat tak dikenal mendarat
pada sebuah lapangan, pesawat itu di dapati kosong berukuran 3 lantai rumah
dengan bentuk sedikit oval dan tebal berwarna silver. Ujung belakangnya
membentuk sirip seperti ikan dengan bagian atasnya yang gosong seperti
terbakar. Setidaknya hanya info itu yang berhasil didapat dari internet
streaming. “Sepertinya lokasinya tidak jauh dari sini, tapi mereka mungkin
sudah memindahkannya.” Jelas Ryan.
“Aneh, padahal tadi malam
aku melihat 2 sinyal, sirip itu terlihat seperti telah di tembak. Dan manusia
belum ada yang bisa membuka pesawat itu, aku melihat dari gambar kalau pesawat
itu masih terkunci, mereka takkan bisa membukanya tanpa akses dari Ori yang
mengendarai pesawat itu.” Jelas Astro yang kemudian menjelaskan apa itu Ori
(makhluk pribumi yang berasal dari Twin Stars).
“Baiklah, bagaimana kalau
kita kesana dan mencari jejaknya. Pakai ini.” Ryan menyodorkan jaket coklat
bertudung panjang lengkap dengan masker dan celana jeans hitamnya yang panjang.
“Minimal orang-orang takkan mengira kau salah satu dari itu.”
Mereka berdua keluar dari
rumah yang memang sepi karena orang tua Ryan memang sedang bekerja. Mereka
mengendarai motor menuju sebuah lapangan yang jadi tempat dimana pesawat itu
mendarat. Lapangan itu dikelilingi pagar kawat, di sekeliling lapangan hanya ada
pertokoan yang setiap malam pasti tutup. Pesawat itu sudah tidak ada disana,
tapi tempat itu telah ramai dengan polisi, wartawan, dan warga-warga sekitar.
Terlihat tanah lapangan yang rusak karena tertabrak pesawat itu dan salah satu
pohon di pinggir taman yang tumbang sedang di bersihkan tapi tak ada
tanda-tanda pertokoan yang hancur, itu berarti menandakan teman Astro tidak
masuk ke salah satu toko itu pada malam hari. Tiba tiba, Tom menepuk pundak
Ryan, Astro segera mundur, sedikit menjauh dari Ryan.
“Kau datang kesini juga.”
Tanya Tom.
“Ow, Ya. Kupikir akan
sayang jika melewatkan momen ufo jatuh ini.” Ryan masih kaget dengan Tom dan
melirik Astro yang mundur menjauh dari Ryan dan keluar dari kerumunan orang.
“Apa kau bersama
seseorang?” Tom melihat kecurigaan dari mata Ryan yang melirik seseorang
berjaket dan bermasker.”Atau sedang diikuti.”
“Oke. Tidak Tom,
sepertinya aku harus pergi sekarang, ada urusan yang harus diselesaikan.” Ryan
berjalan keluar dari kerumunan warga yang melihat-lihat.
“Semoga berhasil dengan
urusanmu.” Lalu Tom pun masuk lebih jauh kedalam kerumunan dan berusaha untuk
melihat semakin dekat menuju kerumunan terdepan.
Astro dan Ryan berjalan
menuju sebuah gang sempit sebuah di dekat lapangan. “Aku yakin dia lewat sini
tadi malam. Aku melihat jejaknya, dan hanya ini jalan satu-satunya yang tak
terlihat keramaian.”
Astro mencoba meyakinkan Ryan. “Ayo coba ikuti.”
Ryan dan Astro berjalan
dengan hati-hati di gang yang hanya muat sekitar 4 orang itu, gang itu adalah
sebuah jalan yang sisi-sisinya adalah sebuah dinding-dinding toko. Mereka
sampai pada sebuah jalan buntu yang dihalangi pagar pembatas sungai. Di depan
pagar tembok itu, ada sebuah tong sampah kotak besi berukuran besar yang
menghalangi pagar. “Jadi, ini jalan buntunya.” Kata Ryan.
“Tidak mungkin, dia lewat
sini.” Astro memanjat Tong besi itu dan melihat kalau di balik pagar tembok itu
memang sungai. Ketika ia membalikkan badan, tutup dari tong itu terbuka masuk
ke dalam menjatuhkan Astro ke dalamnya. Astro kaget. “Kurasa aku tau kemana
dia.” Astro segera turun dari Tong itu, mengangkat sebuah tubuh sepertinya,
tapi tanpa kepala. “Benar-benar nekat, dia melepaskan tubuhnya.”
“Tunggu, apa maksudmu?”
Ryan bertanya kebingungan. “sepertinya kau belum menjelaskan sesuatu padaku.”
Astro menelaskan kalau
tubuh asli dari makhluk Ori sepertinya itu memang hanya kepala saja yang bisa
terbang sejauh 5 meter dari pijakannya, sedangkan tubuh itu hanya untuk sebagai
senjata dan pembantu Ori melakukan banyak hal. Mereka memasukan tubuh itu kedalam
sebuah kardus televisi tabung dan segera kembali keluar melewati jalan yang
mereka masuki itu. Di ujung jalan Tom ternyata sudah melihat Ryan dan Astro
dari tadi tanpa bicara apa-apa. Ryan kaget karena Tom mengamati mereka dari
tadi. “Apa yang kau lakukan disini?” tanya Ryan.
“Bagaimana juga denganmu?
Kau bersekutu dengan alien, aku akan melaporkannya.” Kata Tom yang segera
mundur dan ingin berlari keluar gang.
“Tunggu Tom, baiklah,
kami akan ceritakan tapi tidak disini. Kenalkan dulu Tom, ini teman alienku,
Astro. Dan Astro, ini Tom.” Kata Ryan.
“Apakah, tidak berbahaya
bersamanya?” tanya Tom.
Astro membuka maskernya
meskipun memang ia tak punya mulut, tapi suaranya memang berasal dari
sana.“Jika aku berbahaya aku sudah membunuh kalian dari tadi.” Dengan wajah
masih enggan mau tidak mau Tom membantu Ryan membawa kardus itu ke motornya.
Berkali-kali di perjalanan menuju parkiran, Tom meyakinkan Ryan bahwa membantu
alien itu salah, dia harus di bawa dan ditangani ke pihak yang berwajib, namun
Ryan tetap teguh bahwa dia mempercayai Astro dan memberitahu bahwa
memberitahukannya pada pihak seperti itu hanya akan memperlambat misinya dan
membuat dunia gencar kalau alien benar-benar ada. Jadi seperti ini lebih baik.
Mereka pun segera mengendarai motor menuju rumah dengan Ryan membonceng Astro
dan Tom membawa kardus di kursi belakangnya.
Mereka sampai di rumah
Ryan dan segera membongkar tubuh yang mereka temukan di kamar Ryan. Ryan
menceritakan semua kejadiaannya dengan singkat kepada Tom, tapi Tom tetap
berfikir ini berbahaya bahwa mereka belum tahu apakah mereka aman jika tetap
mempercayai Astro, tapi mungkin Ryan sudah terlambat untuk tidak mempercayai
Astro karena ia sekarang sangat berharap Ryan bisa membantunya menemukan
temannya di Bumi, jadi Tom hanya tetap ikut saja dengan Ryan. “Namanya Canny,
setidaknya itu yang kudapatkan dari informasi terakhir pemakai tubuh ini, dia
tidak bawa senjata apapun, kuharap dia tidak sendiri saat ini.” Kata Astro.
“Kita pasti bisa
menemukannya dan membawamu pulang kesana.” Ryan mencoba menenangkan Astro.
No comments:
Post a Comment