Saturday, 18 January 2014

Chapter 02 - Post 3

Bagian 1 : Planet Biru

Chapter 02 : Teman dan Saudara

Post 3



Sorenya dirumah Ryan, mereka menunggu sampai terlihat penampakan dari kamera yang mereka pasang. Ryan dan Tom sedang bermain catur di kasur sampai Astro mengagetkan mereka dari depan komputer. “Mereka datang! Tampaknya mereka membawa seseorang.” Ryan dan Tom segera mendekati Astro. Dari layar komputer, terlihat 3 makhluk besar memakai jubah hitam panjang, 2 dari mereka membawa seseorang yang tentunya Ryan dan Tom kenal.


Rambutnya hitam, darah menetes dari wajahnya, ia memakai kaus hitam dengan celana jeans. Ia diseret oleh 2 makhluk besar yang besarnya kira-kira 2 kali manusia biasa itu. Wajah makhluk yang membawa mereka tak terlihat jelas. Salah satu makhluk yang tidak membawa apa-apa itu menyentuh sebuah pohon terdekat dan seketika pelindung dari pesawat mereka pun terlepas. Mereka masuk kedalam pesawat membawa manusia yang pingsan tak berdaya itu, dia adalah Jake Rancor yang tidak lain saudara tiri Ryan sendiri. “Astro, ayo kita pergi untuk menyelematkannya.” Ryan panik karena melihat saudaranya tak berdaya.


“Apa makhluk seperti mereka akan memakan manusia?” tanya Tom kepada Astro.

“Ada apa dengan kalian? Mereka tidak akan memakan manusia. Mereka sepertinya mendapatkan sesuatu yang penting dari orang itu. Apa hubungannya orang itu dengan kalian?”

“Dia adalah saudara Ryan.” Jawab Tom karena Ryan mulai panik sendiri.
Merekapun bergegas karena sebentar lagi pasti matahari akan terbenam dan hari mulai gelap. Di perjalanan, Ryan menceritakan semua cerita tentang Jake kepada Astro bahwa Jake adalah saudara tirinya. “Aku yakin makhluk yang membawa saudaramu itu adalah Horigan, mereka adalah tentara bayaran Giral, jenis seperti monster manusia bertanduk berwarna hijau, Giral menemukannya di salah satu planet yang pernah ia jajah.” Kemudian Astro menjelaskan beberapa makhluk yang ada di Twin Stars karena planet itu memang sudah ditinggali banyak penghuni planet lain yang sedang mensurvei angkasa dan kebetulan menemukan Twin Stars, tapi Ryan dan Tom hanya mengangguk seolah mengerti karena memang mereka seharusnya melihat dengan mata mereka sendiri.

Mereka akhirnya sampai setelah matahari terbenam pada tempat yang mereka tuju. Mereka tetap tak bisa melihat pesawat itu karena hari yang sudah gelap dan transparan, sampai Astro menekan sebuah lambang huruf G yang ada pada pohon yang mereka lihat di kamera tadi. Perisai pun menghilang dan pesawat hitam itupun terlihat kembali. Ada pintu pesawatnya yang terbuka, tapi sebuah sinar dari pintu pesawat yang terbentuk seperti tangga itu mulai tertutup. Kemudian pesawat itu mulai siap untuk lepas landas. Astro, Ryan dan Tom berlari menuju tangga tanpa anak tangga yang terbuka dan menuju kedalam pesawat tepat ketika pintu itu tertutup.

“Ada penyusup!” teriak salah seorang monster Horigan yang melihat Astro, Ryan dan Tom. Horigan itu memiliki tubuh sekitar 2 meter dan berbadan besar seperti badak, mempunyai 2 tanduk di kepalanya yang juga berkulit hijau, memakai baju berbahan yang seperti besi berwarna hitam.

“Lari!” teriak Astro. Ryan dan Tom segera berlari menuju lorong kecil dan panjang yang mungkin mengarah ke ruang kendali, sedangkan Astro menahan Horigan itu agar tidak mengejar mereka berdua. Mereka sampai pada sebuah pintu hitam yamg sama hitamnya dengan lorong yang gelap tapi sedikit bersinar putih lampu transparan itu. Pintu otomatis itu terbuka, Ryan pertama kali berlari masuk tapi ia terkena sebuah laser pelumpuh yang di tembakkan oleh salah satu Horigan yang berada di ruang kendali itu, dan Ryan pun terjatuh tak bisa bergerak Tom pun jatuh karena tertabrak Ryan yang jatuh, bukan karena laser yang memang ternyata belum mengenai Tom.

“Jangan berdiri! Berpura-puralah tak bisa bergerak seperti aku!” Bisik Ryan kepada Tom yang mengangguk tanda mengerti. Mereka kini berada di ruang kendali yang tingginya kira-kira hanya 2 setengah meter yang luasnya sekitar 5 kali 5 meter, banyak kelap kelip tombol bercahaya di sekitar ruangan. Jake tergeletak di ujung ruangan dengan tiang yang terikat dengannya tidak jauh dari tempat Ryan dan Tom terjatuh. Para Horigan itu mulai mendekati Ryan.

“Siapa kalian? Kami sudah tidak butuh manusia lagi saat ini.” Suaranya yang besar dan serak sempat mengagetkan Ryan dan Tom.

Mungkin Ryan akan heran karena ia berbicara manusia, tapi sepertinya sejak sampai di Bumi, para alien menerjemahkan sistem bahasa mereka agar dapat dimengerti manusia. “Apa yang kau inginkan dengannya!” bentak Ryan sambil melirik ke arah Jake yang berwajah terluka. Dari hidungnya masih mengeluarkan darah dan tak sadarkan diri juga diikat oleh borgol besi yang tebal. Ryan yakin asal borgol itu bukan dari Bumi.

“Dia bisa di jadikan senjata bagi kami untuk melawan para Ori. Kalian takkan mengerti.” Kata salah satu Horigan yang mendekati Ryan itu.

Astro masuk tapi tanpa tubuhnya kali ini, ia hanya terbang dengan kepalanya dan itu mungkin membuat Ryan sedikit terkejut. “Apa yang terjadi disini!”

“Kapten Astro, tidak menyangka kau selamat dengan SA 011 itu. Kau yang membawa mereka? Apa kau sudah bertemu Canny? Aku yakin aku sudah menembak hancur pesawatnya.” Kata Horigan itu.

“Rupanya kau yang membuat ekor pesawat itu rusak. Aku tidak tahu siapa kau, tapi sepertinya kau adalah anak buah Giral. Aku cuma ingin kau tahu bahwa kau berada di pihak yang salah.” Ancam Astro. Seorang Horigan yang hanya duduk di kursi kendali menyalakan mesin. Tiba-tiba pesawat terangkat terbang.

“Perkenalkan, namaku Argos, dan dia saudaraku Darkor.” Dia menunjuk Horigan yang mengendalikan pesawat. “Aku yakin kau sudah bertemu saudaraku yang satu lagi, Fragor.”

“Ya. Dia sudah kulempar keluar.” Geram Astro. “Apa yang kau mau dengan teman bumiku?”

“Seharusnya kau tahu tentang Weapon Peacekeeper yang hanya bisa digunakan oleh manusia saja. Tuan Giral menemukan salah satunya, dia ingin kami membawakan seseorang yang punya aura jahat yang sangat kuat. Dan kami telah menemukannya.” Jelas Argos. “Ups, seharusnya aku tidak berbicara terlalu banyak.” Pesawat terbang semakin meninggi.

“Tidak mungkin, benda itu hanya ada 3.” Astro masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tom melihat sebuah tongkat besi yang tersandar di dinding, dan ia berusaha meraihnya dengan kakinya.
“Kalau begitu, mari kita lihat apakah kalian bisa bertahan jatuh dari ketinggian seperti ini. Darkor, buka atapnya.” Atap diatas mereka pun terbuka secara perlahan, membawa masuk angin yang berhembus sangat kencang. Astro terbang kemudian menutup wajah Ryan, dalam sepersekian detik wajar Ryan berubah menjadi wajah Astro, seperti memakai topeng dan Ryan pun berhasil bergerak, kemudian berdiri dan langsung menyergap Argos sebelum ia mulai menembak lagi. Ryan atau Astro mendorong Argos menuju kursi dan meja kendali nya yang kosong, pesawatpun menukik ke bawah. Darkor meninggalkan kursinya menuju Ryang yang sedang membekuk Argos, Tom bangun, mengambil tongkat besi yang panjangnya sekitar 1 meter dan memukul kepala Darkor.

Pesawat menjadi tidak terkendali, Argos meletakkan telapak tangannya yang besar menuju wajah Ryan yang tertutupi topeng Astro, berusaha membukannya. “Pintar sekali menggunakan manusia sebagai senjata.” Geram Argos yang lehernya di bekuk oleh tangan Ryan sehingga kelihatannya ia sulit bernafas. Tom yang memukul kepala Darkon tidak dapat mengelak dari tinju Darkon sehingga Tom terjatuh, lalu Darkon mengangkat kerak kaos belakangnya dan melemparnya keluar atap yang terbuka dan miring jatuh kebawah.

“Tidak!” Teriak Ryan di dalam topeng Astro yang bekukkannya melemah. Tangan Argos pun mencapai leher Ryan dan mengangkatnya sambil menggengam wajahnya agar Astro tidak melepas dirinya dari Ryan. Keadaan berbalik sekarang. Pesawatpun kembali stabil.

“Sudah saatnya sekarang. Selamat tinggal.” Ucap Argos yang kemudian melempar Ryan dan Astro keluar ruangan dengan ringannya. Ryan melihat wajah Jake yang terluka masih tak berdaya terikat di tiang untuk terakhir kalinya dan jatuh menuju tanah.

Satu-satunya sekarang yang dikhawatirkan Astro dan Ryan saat ini adalah Tom dan mereka yang terbang dengan cepat menuju kebawah. Jatuh melewati awan-awan, bagaimana mereka akan selamat. Ryan dan Astro melihat Tom tak jauh dari mereka yang sepertinya pingsan karena melihat dia jatuh dari tempat yang tinggi, Ryan segera mendekati Tom dengan gaya renangnya melintasi udara, memeluk Tom. Dan akhirnya Ryanpun taksadarkan diri. Astro yang masih menempel di wajah Ryan mengendalikan tubuhnya hingga mereka terjatuh pada sebuah danau besar. Astro menggunakan tubuh Ryan untuk mengangkat Tom dan berenang sampai ketepian. Di tepian Astro dikejutkan oleh seseorang yang menyebut namanya. “Astro!

No comments:

Post a Comment