Bagian
1 : Planet Biru
Chapter 02 : Teman dan Saudara
Post 3
Sorenya dirumah Ryan,
mereka menunggu sampai terlihat penampakan dari kamera yang mereka pasang. Ryan
dan Tom sedang bermain catur di kasur sampai Astro mengagetkan mereka dari
depan komputer. “Mereka datang! Tampaknya mereka membawa seseorang.” Ryan dan
Tom segera mendekati Astro. Dari layar komputer, terlihat 3 makhluk besar
memakai jubah hitam panjang, 2 dari mereka membawa seseorang yang tentunya Ryan
dan Tom kenal.
Rambutnya hitam, darah
menetes dari wajahnya, ia memakai kaus hitam dengan celana jeans. Ia diseret
oleh 2 makhluk besar yang besarnya kira-kira 2 kali manusia biasa itu. Wajah
makhluk yang membawa mereka tak terlihat jelas. Salah satu makhluk yang tidak
membawa apa-apa itu menyentuh sebuah pohon terdekat dan seketika pelindung dari
pesawat mereka pun terlepas. Mereka masuk kedalam pesawat membawa manusia yang
pingsan tak berdaya itu, dia adalah Jake Rancor yang tidak lain saudara tiri
Ryan sendiri. “Astro, ayo kita pergi untuk menyelematkannya.” Ryan panik karena
melihat saudaranya tak berdaya.
“Apa makhluk seperti
mereka akan memakan manusia?” tanya Tom kepada Astro.
“Ada apa dengan kalian?
Mereka tidak akan memakan manusia. Mereka sepertinya mendapatkan sesuatu yang
penting dari orang itu. Apa hubungannya orang itu dengan kalian?”
“Dia adalah saudara
Ryan.” Jawab Tom karena Ryan mulai panik sendiri.
Merekapun bergegas karena
sebentar lagi pasti matahari akan terbenam dan hari mulai gelap. Di perjalanan,
Ryan menceritakan semua cerita tentang Jake kepada Astro bahwa Jake adalah
saudara tirinya. “Aku yakin makhluk yang membawa saudaramu itu adalah Horigan,
mereka adalah tentara bayaran Giral, jenis seperti monster manusia bertanduk
berwarna hijau, Giral menemukannya di salah satu planet yang pernah ia jajah.”
Kemudian Astro menjelaskan beberapa makhluk yang ada di Twin Stars karena
planet itu memang sudah ditinggali banyak penghuni planet lain yang sedang
mensurvei angkasa dan kebetulan menemukan Twin Stars, tapi Ryan dan Tom hanya
mengangguk seolah mengerti karena memang mereka seharusnya melihat dengan mata
mereka sendiri.
Mereka akhirnya sampai
setelah matahari terbenam pada tempat yang mereka tuju. Mereka tetap tak bisa
melihat pesawat itu karena hari yang sudah gelap dan transparan, sampai Astro
menekan sebuah lambang huruf G yang ada pada pohon yang mereka lihat di kamera
tadi. Perisai pun menghilang dan pesawat hitam itupun terlihat kembali. Ada
pintu pesawatnya yang terbuka, tapi sebuah sinar dari pintu pesawat yang terbentuk
seperti tangga itu mulai tertutup. Kemudian pesawat itu mulai siap untuk lepas
landas. Astro, Ryan dan Tom berlari menuju tangga tanpa anak tangga yang
terbuka dan menuju kedalam pesawat tepat ketika pintu itu tertutup.
“Ada penyusup!” teriak
salah seorang monster Horigan yang melihat Astro, Ryan dan Tom. Horigan itu
memiliki tubuh sekitar 2 meter dan berbadan besar seperti badak, mempunyai 2
tanduk di kepalanya yang juga berkulit hijau, memakai baju berbahan yang
seperti besi berwarna hitam.
“Lari!” teriak Astro. Ryan
dan Tom segera berlari menuju lorong kecil dan panjang yang mungkin mengarah ke
ruang kendali, sedangkan Astro menahan Horigan itu agar tidak mengejar mereka
berdua. Mereka sampai pada sebuah pintu hitam yamg sama hitamnya dengan lorong
yang gelap tapi sedikit bersinar putih lampu transparan itu. Pintu otomatis itu
terbuka, Ryan pertama kali berlari masuk tapi ia terkena sebuah laser pelumpuh
yang di tembakkan oleh salah satu Horigan yang berada di ruang kendali itu, dan
Ryan pun terjatuh tak bisa bergerak Tom pun jatuh karena tertabrak Ryan yang
jatuh, bukan karena laser yang memang ternyata belum mengenai Tom.
“Jangan berdiri!
Berpura-puralah tak bisa bergerak seperti aku!” Bisik Ryan kepada Tom yang
mengangguk tanda mengerti. Mereka kini berada di ruang kendali yang tingginya
kira-kira hanya 2 setengah meter yang luasnya sekitar 5 kali 5 meter, banyak
kelap kelip tombol bercahaya di sekitar ruangan. Jake tergeletak di ujung ruangan
dengan tiang yang terikat dengannya tidak jauh dari tempat Ryan dan Tom
terjatuh. Para Horigan itu mulai mendekati Ryan.
“Siapa kalian? Kami sudah
tidak butuh manusia lagi saat ini.” Suaranya yang besar dan serak sempat
mengagetkan Ryan dan Tom.
Mungkin Ryan akan heran
karena ia berbicara manusia, tapi sepertinya sejak sampai di Bumi, para alien
menerjemahkan sistem bahasa mereka agar dapat dimengerti manusia. “Apa yang kau
inginkan dengannya!” bentak Ryan sambil melirik ke arah Jake yang berwajah terluka.
Dari hidungnya masih mengeluarkan darah dan tak sadarkan diri juga diikat oleh
borgol besi yang tebal. Ryan yakin asal borgol itu bukan dari Bumi.
“Dia bisa di jadikan
senjata bagi kami untuk melawan para Ori. Kalian takkan mengerti.” Kata salah
satu Horigan yang mendekati Ryan itu.
Astro masuk tapi tanpa
tubuhnya kali ini, ia hanya terbang dengan kepalanya dan itu mungkin membuat
Ryan sedikit terkejut. “Apa yang terjadi disini!”
“Kapten Astro, tidak
menyangka kau selamat dengan SA 011 itu. Kau yang membawa mereka? Apa kau sudah
bertemu Canny? Aku yakin aku sudah menembak hancur pesawatnya.” Kata Horigan
itu.
“Rupanya kau yang membuat
ekor pesawat itu rusak. Aku tidak tahu siapa kau, tapi sepertinya kau adalah
anak buah Giral. Aku cuma ingin kau tahu bahwa kau berada di pihak yang salah.”
Ancam Astro. Seorang Horigan yang hanya duduk di kursi kendali menyalakan
mesin. Tiba-tiba pesawat terangkat terbang.
“Perkenalkan, namaku
Argos, dan dia saudaraku Darkor.” Dia menunjuk Horigan yang mengendalikan pesawat.
“Aku yakin kau sudah bertemu saudaraku yang satu lagi, Fragor.”
“Ya. Dia sudah kulempar
keluar.” Geram Astro. “Apa yang kau mau dengan teman bumiku?”
“Seharusnya kau tahu
tentang Weapon Peacekeeper yang hanya bisa digunakan oleh manusia saja. Tuan Giral
menemukan salah satunya, dia ingin kami membawakan seseorang yang punya aura
jahat yang sangat kuat. Dan kami telah menemukannya.” Jelas Argos. “Ups,
seharusnya aku tidak berbicara terlalu banyak.” Pesawat terbang semakin
meninggi.
“Tidak mungkin, benda itu
hanya ada 3.” Astro masih tidak percaya dengan apa yang terjadi. Tom melihat
sebuah tongkat besi yang tersandar di dinding, dan ia berusaha meraihnya dengan
kakinya.
“Kalau begitu, mari kita
lihat apakah kalian bisa bertahan jatuh dari ketinggian seperti ini. Darkor,
buka atapnya.” Atap diatas mereka pun terbuka secara perlahan, membawa masuk
angin yang berhembus sangat kencang. Astro terbang kemudian menutup wajah Ryan,
dalam sepersekian detik wajar Ryan berubah menjadi wajah Astro, seperti memakai
topeng dan Ryan pun berhasil bergerak, kemudian berdiri dan langsung menyergap
Argos sebelum ia mulai menembak lagi. Ryan atau Astro mendorong Argos menuju
kursi dan meja kendali nya yang kosong, pesawatpun menukik ke bawah. Darkor
meninggalkan kursinya menuju Ryang yang sedang membekuk Argos, Tom bangun,
mengambil tongkat besi yang panjangnya sekitar 1 meter dan memukul kepala
Darkor.
Pesawat menjadi tidak
terkendali, Argos meletakkan telapak tangannya yang besar menuju wajah Ryan
yang tertutupi topeng Astro, berusaha membukannya. “Pintar sekali menggunakan
manusia sebagai senjata.” Geram Argos yang lehernya di bekuk oleh tangan Ryan
sehingga kelihatannya ia sulit bernafas. Tom yang memukul kepala Darkon tidak
dapat mengelak dari tinju Darkon sehingga Tom terjatuh, lalu Darkon mengangkat
kerak kaos belakangnya dan melemparnya keluar atap yang terbuka dan miring
jatuh kebawah.
“Tidak!” Teriak Ryan di
dalam topeng Astro yang bekukkannya melemah. Tangan Argos pun mencapai leher
Ryan dan mengangkatnya sambil menggengam wajahnya agar Astro tidak melepas
dirinya dari Ryan. Keadaan berbalik sekarang. Pesawatpun kembali stabil.
“Sudah saatnya sekarang.
Selamat tinggal.” Ucap Argos yang kemudian melempar Ryan dan Astro keluar
ruangan dengan ringannya. Ryan melihat wajah Jake yang terluka masih tak
berdaya terikat di tiang untuk terakhir kalinya dan jatuh menuju tanah.
Satu-satunya sekarang
yang dikhawatirkan Astro dan Ryan saat ini adalah Tom dan mereka yang terbang
dengan cepat menuju kebawah. Jatuh melewati awan-awan, bagaimana mereka akan
selamat. Ryan dan Astro melihat Tom tak jauh dari mereka yang sepertinya
pingsan karena melihat dia jatuh dari tempat yang tinggi, Ryan segera mendekati
Tom dengan gaya renangnya melintasi udara, memeluk Tom. Dan akhirnya Ryanpun taksadarkan
diri. Astro yang masih menempel di wajah Ryan mengendalikan tubuhnya hingga
mereka terjatuh pada sebuah danau besar. Astro menggunakan tubuh Ryan untuk
mengangkat Tom dan berenang sampai ketepian. Di tepian Astro dikejutkan oleh
seseorang yang menyebut namanya. “Astro!
No comments:
Post a Comment