Saturday, 18 January 2014

Chapter 01 - Post 3

Bagian 1 : Planet Biru

Chapter 01 : Pergi dan Jatuh

Post 3

Jauh di angkasa luas, SA 011 keluar dari dimensi warpnya. Pesawat itu nyaris saja menyentuh lahar Matahari, Alarm pun kemudian berbunyi. Seluruh awak kapal berlarian kemana-mana. “Perintah Evakuasi! Segera!” teriak Kapten Astro. Beberapa pilot di sebelahnya segera mengatur jalan keluar pesawat-pesawat kecil bertenaga warp, pesawat itu berbetuk seperti tabung yang besar dengan sayap seperti elang di kedua sisinya.


“Bagaimana dengan misi kita, kapten.” Kata salah satu pilotnya.

“Aku yang akan menyelesaikannya. Kalian pergilah!”

“Tapi Kapten.”

“Ini perintah!”

Pesawat itu mulai terbakar dengan sangat cepat, namun tetap bertahan menjauhi Matahari. Beberapa awak kapal sudah siap di dalam pesawat evakuasi. Kedua Pilot di samping Astro telah pergi, kini ia tinggal sendiri di ruang kendali yang sudah rusak cukup parah. “Aktifkan Kapsul Mini”. Dan komputer pesawatpun mengeluarkan sebuah kapsul pada kabin bagian bawah pesawat, kapsul itu hanya muat untuk seorang Ori saja. Astro segera turun menuju kapsul itu.

“Kapten, kami siap bersama anda.” Lapor salah satu awaknya di depan kapal evakuasi. Ruang landasan terbang yang sudah banyak terbakar meredam suaranya. 7 Pesawat evakuasi sudah siap diluncurkan, namun belum ada satupun awak kapal yang sudah masuk ke dalamnya. Landasan itu terlihat seperti garasi pesawat di bumi pada umumnya, memiliki tiang-tiang baja, besi dan seng berhamburan kemana-mana karena terbakar. Kondisi sudah sangat buruk.

“Kalian pulanglah ke Golden Ring, laporkan kepada pemimpin kita bahwa misi berhasil, dan kirimkan seorang penyelamat dengan pesawat tempur yang lebih canggih untuk menjemputku. Pesawat yang bisa menembus panas matahari. Aku akan selesaikan ini sendiri, Makhluk bumi akan kaget jika ada banyak pesawat yang jatuh ke planetnya. Cepatlah! Sebelum kalian keluar dari jalur koneksi warp.” Teriak Astro. Setelah itu para awak pun masuk ke kapal evakuasi yang masing-masing cukup untuk 5 Ori setidaknya.

“Kapten! Pulanglah dengan selamat.” Salah satu co-pilotnya tadi memberi salam perpisahan.

“Begitupun dengan kalian.” Dan Astro pun masuk kedalam kapsulnya. Kapsul itu dibuat untuk Ori terbaring dan menyisakan 1 jendela di kepalanya. “Memulai perintah pelepasan!” Kapsul pun terdorong kesebuah terowongan kecil di pesawat, begitu pula dengan pesawat evakuasi yang lainnya. Sebuah jet roket di bagian atas kepala mengeluarkan apinya. Kapsul pun terbang menuju Bumi dengan kecepatan tinggi. Astro dapat melihat pesawat SA 011 terbakar, dan seluruh krunya keluar dengan pesawat evakuasi kecil dan terbang kembali menuju matahari dan tiba-tiba menghilang.

Kapsul melaju begitu cepat di ruang angkasa yang kosong menuju sebuah planet biru. Melewati jalur rotasi Merkurius dan Venus terhadap Matahari yang sangat jauh itu dengan cepat. Kapsul beberapa kali menabrak meteroid yang kecil sehingga menyebabkan beberapa kerusakan kecil. 1 Jam kemudian ia mulai memasuki Atmosfer Bumi, Kapsulpun menjadi memerah namun tidak terbakar. “ketinggian 5000 kaki” suara komputer itu membangunkan Astro yang hampir saja terlelap. Keadaan di Bumi saat itu adalah malam hari, beberapa lampu kota mulai terlihat dibawahnya. Kapsul itu segera mematikan roket bagian atasnya dan menyalakan roket bagian bawahnya. Kecepatan jatuh pun menurun, tapi tetap saja kapsul itu masih terlalu cepat untuk menyentuh tanah. “2000 kaki” dia akan bertabrakan. Astro pun bersiap, Kapsul itu lumayan besar untuk ukuran mobil yang ada di bumi, bisa di bilang ia seperti sedan yang jatuh dari langit. Kapsul menabrak rumput sebuah kebun tomat merah. Dan terus meluncur merusak kebun yang luas itu dengan hantaman yang sangat kuat. Astro bergetar di dalamnya.

Kapsul akhirnya berhenti sebelum merusak pintu sebuah kandang kuda di ujung kebun, sebuah rumah pemilik kebun mendengar suara yang besar dari arah kebun. Seorang Manula membawa senapan keluar dari rumahnya bersama istrinya yang sudah paruh baya membawa senter di tangannya. Astro pun segera keluar dari kapsul itu. “Perintah penerjemahan bahasa.” Katanya kepada dirinya sendiri yang memang seperti robot itu. Ternyata tinggi Astro tidak terlalu tinggi dari kakek yang menyapanya di kebun itu, hanya berbeda beberapa senti lebih tinggi dibanding kakek itu.

“Siapa Kau! Kau merusak kebunku.” Teriak kakek itu sambil mengacungkan senapannya. Sinar senter membuat mata Astro yang juga bercahaya itu terlihat sedikit memudar.

“Monster!” teriak istri dari kakek itu sambil segera menarik kakek itu lari menjauh.

“Tunggu!” kata Astro yang sekarang dengan bahasa manusia. Kakek itu menembakkan beberapa peluru ke tubuh Astro namun terpental kembali tak mempan. Mereka berdua segera lari menjauh sambil teriak minta tolong. Terdengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan. Astro tidak mau membuang waktu, ia melihat sebuah hutan kecil disamping kebun itu dan masuk kedalamnya dan menghilang.

No comments:

Post a Comment