Bagian
1 : Planet Biru
Post 3
Jauh di angkasa luas, SA 011 keluar dari dimensi warpnya. Pesawat itu nyaris saja menyentuh lahar Matahari, Alarm pun kemudian berbunyi. Seluruh awak kapal berlarian kemana-mana. “Perintah Evakuasi! Segera!” teriak Kapten Astro. Beberapa pilot di sebelahnya segera mengatur jalan keluar pesawat-pesawat kecil bertenaga warp, pesawat itu berbetuk seperti tabung yang besar dengan sayap seperti elang di kedua sisinya.
Chapter 01 : Pergi dan Jatuh
Jauh di angkasa luas, SA 011 keluar dari dimensi warpnya. Pesawat itu nyaris saja menyentuh lahar Matahari, Alarm pun kemudian berbunyi. Seluruh awak kapal berlarian kemana-mana. “Perintah Evakuasi! Segera!” teriak Kapten Astro. Beberapa pilot di sebelahnya segera mengatur jalan keluar pesawat-pesawat kecil bertenaga warp, pesawat itu berbetuk seperti tabung yang besar dengan sayap seperti elang di kedua sisinya.
“Bagaimana dengan misi
kita, kapten.” Kata salah satu pilotnya.
“Aku yang akan
menyelesaikannya. Kalian pergilah!”
“Tapi Kapten.”
“Ini perintah!”
Pesawat itu mulai
terbakar dengan sangat cepat, namun tetap bertahan menjauhi Matahari. Beberapa
awak kapal sudah siap di dalam pesawat evakuasi. Kedua Pilot di samping Astro
telah pergi, kini ia tinggal sendiri di ruang kendali yang sudah rusak cukup
parah. “Aktifkan Kapsul Mini”. Dan komputer pesawatpun mengeluarkan sebuah
kapsul pada kabin bagian bawah pesawat, kapsul itu hanya muat untuk seorang Ori
saja. Astro segera turun menuju kapsul itu.
“Kapten, kami siap
bersama anda.” Lapor salah satu awaknya di depan kapal evakuasi. Ruang landasan
terbang yang sudah banyak terbakar meredam suaranya. 7 Pesawat evakuasi sudah
siap diluncurkan, namun belum ada satupun awak kapal yang sudah masuk ke
dalamnya. Landasan itu terlihat seperti garasi pesawat di bumi pada umumnya,
memiliki tiang-tiang baja, besi dan seng berhamburan kemana-mana karena
terbakar. Kondisi sudah sangat buruk.
“Kalian pulanglah ke
Golden Ring, laporkan kepada pemimpin kita bahwa misi berhasil, dan kirimkan
seorang penyelamat dengan pesawat tempur yang lebih canggih untuk menjemputku.
Pesawat yang bisa menembus panas matahari. Aku akan selesaikan ini sendiri,
Makhluk bumi akan kaget jika ada banyak pesawat yang jatuh ke planetnya.
Cepatlah! Sebelum kalian keluar dari jalur koneksi warp.” Teriak Astro. Setelah
itu para awak pun masuk ke kapal evakuasi yang masing-masing cukup untuk 5 Ori
setidaknya.
“Kapten! Pulanglah dengan
selamat.” Salah satu co-pilotnya tadi memberi salam perpisahan.
“Begitupun dengan
kalian.” Dan Astro pun masuk kedalam kapsulnya. Kapsul itu dibuat untuk Ori
terbaring dan menyisakan 1 jendela di kepalanya. “Memulai perintah pelepasan!”
Kapsul pun terdorong kesebuah terowongan kecil di pesawat, begitu pula dengan
pesawat evakuasi yang lainnya. Sebuah jet roket di bagian atas kepala
mengeluarkan apinya. Kapsul pun terbang menuju Bumi dengan kecepatan tinggi.
Astro dapat melihat pesawat SA 011 terbakar, dan seluruh krunya keluar dengan
pesawat evakuasi kecil dan terbang kembali menuju matahari dan tiba-tiba menghilang.
Kapsul melaju begitu
cepat di ruang angkasa yang kosong menuju sebuah planet biru. Melewati jalur
rotasi Merkurius dan Venus terhadap Matahari yang sangat jauh itu dengan cepat.
Kapsul beberapa kali menabrak meteroid yang kecil sehingga menyebabkan beberapa
kerusakan kecil. 1 Jam kemudian ia mulai memasuki Atmosfer Bumi, Kapsulpun
menjadi memerah namun tidak terbakar. “ketinggian 5000 kaki” suara komputer itu
membangunkan Astro yang hampir saja terlelap. Keadaan di Bumi saat itu adalah
malam hari, beberapa lampu kota mulai terlihat dibawahnya. Kapsul itu segera
mematikan roket bagian atasnya dan menyalakan roket bagian bawahnya. Kecepatan
jatuh pun menurun, tapi tetap saja kapsul itu masih terlalu cepat untuk
menyentuh tanah. “2000 kaki” dia akan bertabrakan. Astro pun bersiap, Kapsul
itu lumayan besar untuk ukuran mobil yang ada di bumi, bisa di bilang ia
seperti sedan yang jatuh dari langit. Kapsul menabrak rumput sebuah kebun tomat
merah. Dan terus meluncur merusak kebun yang luas itu dengan hantaman yang
sangat kuat. Astro bergetar di dalamnya.
Kapsul akhirnya berhenti
sebelum merusak pintu sebuah kandang kuda di ujung kebun, sebuah rumah pemilik
kebun mendengar suara yang besar dari arah kebun. Seorang Manula membawa
senapan keluar dari rumahnya bersama istrinya yang sudah paruh baya membawa
senter di tangannya. Astro pun segera keluar dari kapsul itu. “Perintah
penerjemahan bahasa.” Katanya kepada dirinya sendiri yang memang seperti robot
itu. Ternyata tinggi Astro tidak terlalu tinggi dari kakek yang menyapanya di
kebun itu, hanya berbeda beberapa senti lebih tinggi dibanding kakek itu.
“Siapa Kau! Kau merusak
kebunku.” Teriak kakek itu sambil mengacungkan senapannya. Sinar senter membuat
mata Astro yang juga bercahaya itu terlihat sedikit memudar.
“Monster!” teriak istri
dari kakek itu sambil segera menarik kakek itu lari menjauh.
“Tunggu!” kata Astro yang
sekarang dengan bahasa manusia. Kakek itu menembakkan beberapa peluru ke tubuh
Astro namun terpental kembali tak mempan. Mereka berdua segera lari menjauh
sambil teriak minta tolong. Terdengar suara sirine mobil polisi dari kejauhan.
Astro tidak mau membuang waktu, ia melihat sebuah hutan kecil disamping kebun
itu dan masuk kedalamnya dan menghilang.
No comments:
Post a Comment