Bagian
1 : Planet Biru
Chapter 02 : Teman dan Saudara
Post 2
Esoknya di kampus pada
pagi hari, Ryan dan Tom sedang bermain Basket di lapangan yang letaknya di
pinggir kampus. Tapi kemudian Astro datang, berada di pinggir lapangan yang
tertutup dari pagar kawat besi berada di luar area kampus dan lapangan memakai
pakaian yang kemarin di berikan Ryan. Ryan segera keluar kampus dengan tergesa
dan menghampirinya. Tom mengikutinya dari belakang.
“Ada apa kau kemari,
bagaimana kau bisa tahu kampusku?” Tanya Ryan.
“Tidak sulit menemukanmu
juga ternyata, aku hanya jalan-jalan dan kebetulan lewat sini, akau menemukan
sinyal pesawat yang satu lagi berada di dekat sini, jadi kebetulan ku lihat kau
disini, kuajak saja sekalian.” Astro membetulkan kembali maskernya dan berusaha
tidak menjadi pusat perhatian.
“Jadi kau mengajak Ryan
lagi untuk masuk kedalam bahaya. Kau gila.” Bentak Tom.
“Tidak apa-apa Tom. Ayo
kita cek, tampaknya pesawat itu belum ditemukan orang-orang sekitar sini.”
Kemudian Ryan menyuruh Astro menunjukkan jalannya, Astro mengeluarkan alat yang
dia buat dari sisa handphone Ryan yang telah rusak. Astro terus berjalan menuju
sebuah kebun dan pepohonan yang ada di belakang kampusnya, menuju sisi terdalam
dari sebuah pepohonan yang rindang di belakang kampus. Mereka tiba pada sebuah
tanah kosong yang besarnya kira-kira 10 kali 10 meter yang di kelilingi
pepohonan. Kemudian Astro berhenti. “Ada apa?”
“Seharusnya disini. Tapi
kenapa kosong.” Astro memberitahu.
“Kalian memang sudah
gila. Tempat ini kosong. Lihat!” Tom berjalan kedepan kemudian terjatuh karena
menabrak sesuatu yang tidak ada apa-apanya. “Apa ini? Sepertinya ada tembok di
depan sini.” Ryan kemudian membantu Tom untuk berdiri kembali, tapi memang benar.
Mereka berdua tidak bisa masuk kedalam tanah kosong itu, seperti ada sesuatu
yang menghalangi.
“Biar kucari sesuatu.”
Astro segera merogoh tubuhnya kemudian dari matanya mengeluarkan cahaya merah
seperti senter yang terang menerangi sebuah dinding transparan yang menghalangi
jalan mereka. Dari sinar itu terlihat apa yang tanah kosong itu sembunyikan
dari penglihatan mereka, sebuah pesawat hitam pekat yang lebih kecil dari
pesawat kemarin, berbentuk seperti busur dengan lengkungan yang tak terlalu
panjang dan tipis, di depannya ada kaca hitam yang diatasnya ada logo “G”
berwarna merah, tingginya kira-kira mencapai 2 lantai rumah yang normal. 2
tiang yang menyangga pesawat itu agar tetap pada tempatnya. Kemudian cahaya itu
memudar. “Itu bukan pesawat yang ingin menjemputku, itu pesawat yang ingin
membunuhku.”
“Bagaimana jika kau
pulang dengan pesawat ini saja, sepertinya pilotnya sedang jalan-jalan.” Tanya
Tom yang kemudian tersenyum kepada Astro. “Kau bisa masuk kedalam?”
“Tidak, kode kuncinya ada
pada mereka yang membawa pesawat ini. Ini pesawat anak buah Giral. Mereka
mencariku, berusaha mendapatkan kunci Weapon
Peacekeeper itu. Sebaiknya kita pergi dari sini dan menyusun rencana
baru.” Setelah itu Astro menempelkan beberapa kamera mikro super kecil kepada
beberapa batang pohon dan mereka segera pergi dari tempat itu.
No comments:
Post a Comment