Saturday, 18 January 2014

Chapter 01 - Post 4

Bagian 1 : Planet Biru

Chapter 01 : Pergi dan Jatuh

Post 4

Paginya, sebuah berita memberitakan sebuah Kapsul pesawat tak teridentifikasi oleh polisi jatuh di sebuah kebun warga Verdant City. Ryan di dalam rumahnya yang minimalis bersama ayah dan ibunya mendapat telefon dari kakek dan nenek dari ibu kandung Ryan kalau kebun yang rusak itu adalah rumah kakek Ryan sendiri.

“Ayah pergi kerja saja, biar aku yang menjenguk mereka.” Kata Ryan

“Kau yakin?” Ayahnya balas menjawab.

“Iya aku libur hari ini. Akan kupastikan mereka baik-baik saja.”


“Kalau begitu sampaikan juga salamku pada mereka. Bagaimana jika nanti malam kita menginap disana sayang?” Tanya Ibu tiri Ryan kepada Ayah Ryan.

“Ya.Baiklah, sampai kan itu kepada mereka. Kau jaga rumah saja nanti malam, Ryan.” Ayah dan Ibu Ryan pun pergi berangkat menuju tempat kerja mereka di pusat kota menggunakan mobil mereka. Dan Ryan menggunakan sepeda gunungnya segera pergi ke tempat dimana kakek dan neneknya berada.

Pagi itu matahari cerah, Rumah Kakeknya di kelilingi garis polisi sampai pada halaman kebunnya yang rusak menuju ke hutan. Lingkungan itu telah disibukkan oleh banyak polisi, lalu ada beberapa truk yang mengangkut kapsul sebesar ukuran mnobil sedan itu dan beberapa lagi mengangkut sisa-sisa tanah dan tanaman yang rusak. Tetangga kakeknya pun banyak yang berdatangan. 

Masyarakat melihat dengan penasaran, Ryan menuju pintu rumah terbuka yang dihadang oleh polisi. Setelah bebrbincang dengan Polisi penjaga pintu bahwa Ryan adalah cucu dari Kakeknya, Polisi itu memberikan ia jalan masuk.

Di dalam rumah, kakek dan neneknya sedang di wawancarai oleh reporter tv setempat dengan beberapa polisi menggeledah beberapa tempat di rumahnya. Setelah menenunggu setengah jam lamanya, mereka semua keluar dari rumah menyisakan kedua manula itu bersama Ryan di ruang keluarga. Ruangann itu terbuat dari kayu pohon dan tidak di cat, mengeluarkan pemandangan natural dari tembok dan tiangnya yang masih berupa kayu.

“Kakek dan Nenek tidak apa-apa?” tanya Ryan. Mereka pun menjawab kalau mereka baik-baik saja dan segera menceritakan kejadian tadi malam itu kepada Ryan dengan singkat dan cepat. “Mungkin kalau dilihat dari keadaannya, itu bukan monster nek, itu terlihat seperti alien yang baru saja datang ke rumah nenek ini, apakah dia bawa oleh-oleh untuk nenek.” Ryan mencoba mencairkan suasana kakek neneknya yang sedang ketakutan. Neneknya pun tersenyum.

“Para polisi itu meyakinkan kalau itu hanya perbuatan orang iseng yang ingin merusak kebun kita.” Kata Kakeknya penuh harap seperti ia tidak ingin mempercayai kalau itu adalah makhluk asing.

“Oke. Itu hanya orang iseng. Oh, Ayah dan Ibu akan mengunjungi kalian setelah mereka pulang kerja, sepertinya mereka akan menginap disini juga.” Ryan memberitahu mereka. Setelah itu suasanapun mencair seperti biasanya. Kakeknya pergi keluar melihat kebunnya dan memimpin pembersihan kebunnya dari para polisi dan petugas kebersihan. Neneknya pergi ke dapur untuk memasak makan siang.

Malam pun tiba, Ayah dan Ibu Ryan datang membawa beberapa makanan, setelah makan malam, Ryan pamit untuk pulang sendiri ke rumahnya sementara mereka menginap disana. Ryan bersepeda kembali ke rumahnya melewati beberapa gang kecil. Di sekitar daerah yang sudah sepi dan gelap. Ryan memutuskan untuk memotong jalan melewati jalan kecil dihutan untuk mempercepat waktu. Jalan itu hanya jalan setapak yang di kelilingi oleh lampu-lampu kecil seperti lampu taman. Ryan dengan santai mengayuh sepedanya sampai ia melihat sebuah bayangan melewati nya dari pinggir hutan yang gelap, sepasang mata menyala berwarna merah memelototinya. Ryan berhenti memberanikan diri untuk mendekati sumber cahaya yang seperti mata itu karena penasaran.

“Siapa Disana.” Teriak Ryan.

“Kau tidak perlu datang kesini Manusia. Apa kau tidak takut.” Kata suara itu dengan lemah.

“Kau menyebutku manusia, lalu kau ini siapa?” tanya Ryan sambil mendekatinya pelan-pelan. Cahaya mata itu bersandar pada sebuah pohon lalu lama kelamaan memudar. Ryan mencoba mendekati bayangan yang kelihatan makin jelas itu. Makin lama makin terlihat jelas, sesosok tubuh seperti manusia berkulit metalik dan pakaian berbahan seperti besi dengan kepala yang tipis. Tatapan matanya kosong, Ryan tidak tahu harus melakukan apa, jadi dia mengangkat benda itu dan membawanya pulang. Saat membawanya pulang, lingkungan sudah sepi, jadi Ryan yakin tidak ada orang yang melihatnya telah membawa makhluk aneh.

Ryan membaringkan makhluk itu dia atas tempat tidur di kamarnya kemudian menyalakan komputernya, sebenarnya dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, apakah ia benar membawanya ke rumah atau membiarkannya di jalanan. Jadi untuk berjaga jaga, Ryan mengikat tangan dan kaki makhluk itu pada ujung tiang ranjangnya. Untuk sementara Ryan mencari beberapa sumber tentang adanya makhluk asing di Internet, namun rupanya itu tidak membantunya, jadi setelah beberapa lama, ia mematikan komputer dan segera berbaring di lantai kamarnya yang berkarpet, udara terasa dingin, jadi ia menarik selimut dari kasurnya yang di tiduri makhluk yang asing baginya.

Pagi itu, Ryan bangun dan melihat mata dari makhluk yang diikat itu bercahaya merah melototinya. Ryan kaget dengan matanya yang masih baru bangun ia segera menjauh. “Terima kasih sudah menyelamatkanku, aku kelelahan setelah seharian berjalan, perkenalkan, namaku Astro dari planet Twin Stars, galaksinya tidak terlalu jauh dari Bima Sakti, tapi jika kau tidak keberatan, mungkin kau bisa melepaskan tali ini.” Kata Astro.

“Apakah Alien berbahasa manusia? Bagaimana kau bisa berbahasa seperti di bumi?” sepertinya Ryan memiliki banyak pertanyaan untuk Astro.

“Sebaiknya sebelum aku menjawab, kau menyebutkan namamu dulu dan melapaskan tali ini.”

“Aku tidak yakin kalau kau makhluk yang baik-baik, jadi sebaiknya kau jawab dulu semua pertanyaanku, ada urusan apa kau di Bumi. Mungkin saja kau ingin merebut planet kami dan memusnahkan manusia.” Ryan mundur agak jauh dan mengambil sebuah cutter dari meja belajarnya.
“Apakah aku terlihat seperti makhluk jahat? Aku kesini hanya untuk misi dari planetku, dan tentu saja misi itu tidak ada hubungannya dengan menjajah Bumi, jika aku ingin menjajah pun sebaiknya aku harus membawa sekelompok pasukan besar karena ternyata planet ini cukup besar bagiku, oh iya, aku memiliki sistem di pendengaranku untuk menerjemahkan bahasa manusia dan mengeluarkan suara jawabanku dengan terjemahan yang ingin ku katakan, bangsa kami banyak berhutang pada kaum manusia. Jadi kalau kau mau aku bercerita sebaiknya potong tali ini, ini sangat tidak nyaman, bukankah kau membawaku karena kau ingin menolongku.”

“Tidak, tadinya aku ingin membawamu langsung ke pihak yang berwajib menangani ini, tapi sepertinya kau tidak berbahaya. Jika kau macam-macam kau akan langsung kubunuh.” Ryan dengan hati-hati membuka ikatan talinya dengan cutternya. Astro kini memiliki tangan dan kakinya telah bebas bergerak, dan segera menyenderkan tubuhnya di ranjang.

“Jadi, siapa namamu?” Astro mengangkat tangan kanannya kepada Ryan.

“Ryan, Adrian Bright. Panggil saja aku Ryan.” Ryan menjabat tangan Astro dan lalu menurunkan cutter dan tangannya di kasur dan duduk berhadapan, dengan Astro. “Jadi, kau akan cerita kenapa kau tiba disini?”

“Sepertinya aku penasaran dengan kata-katamu tadi yang ingin membunuhku mungkin hanya dengan cutter, aku membayangkan kalau cutter itu justru yang akan patah ketika menusuk tubuhku.” Astro kemudian menunjukkan tangannya dan dari jarinnya keluar sebuah pisau tajam yang kecil dan pendek. Ryan kaget dan mundur pelan-pelan.

“Wow, jadi sepertinya kau yang mau membunuhku? Kau punya selera humor yang jelek.” Kata Ryan sambil menggenggam cutternya erat-erat.

“Jadi, kau ingin mendengarkan ceritaku?”

“Oh, tentu. Kuharap kau tidak mengejek bangsa manusia sementara kau ada di planetnya.”
Astro tertawa kecil kemudian memulai ceritanya, “Dulu, di Planet kami, sekelompok manusia datang dan membawakan kemajuan yang pesat untuk planet kami, dua planet yang berjajar dalam poros yang sama yang kami sebut keduanya Twin Stars meskipun masing-masing planet memiliki nama. Manusia membuat suatu sumber daya paling berharga disana menjadi sebuah senjata mematikan, awalnya, mereka berperang untuk diri mereka masing-masing sampai ada yang menang dan sang pemenang itu membuat planet kami terlihat lebih baik.”

“Jadi kau kesini untuk mengganggu ketentraman manusia untuk balas dendam?”

“Bukan, aku kesini karena misiku untuk menyelamatkan planet ku, dan juga planetmu. Sekarang di tempatku sedang berperang antara makhluk pribumi dengan beberapa makhluk dari luar dunia kami, seorang bertubuh monster yang di sebut bernama Giral, ingin menguasai senjata yang di buat manusia itu di Planet kami.” Astro menjelaskan.

“Bagaimana bisa ada manusia datang ke planetmu dulu sementara peradaban kami saja belum bisa terbang menuju saturnus dengan cepat. Seberapa bahayanya orang atau makhluk bernama Giral itu.”

“Itu dia, Senjata itu bisa menghancurkan sebuah planet, karena manusia yang dulu berperang disana pernah melakukannya, tapi mereka sebenarnya membuatnya untuk menjaga perdamaian di planet kami. Sampai Giral mendengar kisah itu dan datang ke planet kami untuk mengambilnya. Dia adalah monster penjajah planet, bahkan kaumnya sendiri menghancurkan planetnya sendiri karena sudah tidak bisa ditinggali, jadi hidup mereka berpindah-pindah dari planet lain, dan sekarang, ia sedang menjajah planetku.”

“Jadi kau datang ke bumi untuk meminta bantuan manusia di bumi?”

“Mungkin, tapi melihat kondisi bumi seperti ini pasti belum siap, dan jaminan apa supaya kalian bisa membantu kami? Bahkan kalian saja sepertinya baru kedatangan satu alien dan itu adalah aku. Jadi misinya mereka ganti.”

“Ganti? Jadi apa misimu kesini.” Wajah Ryan terlihat penasaran begitu pula Astro,

“Aku hanya ingin memintamu untuk menyimpan ini.” Astro mengeluarkan 3 kubus kecil segenggaman manusia yang tipisnya seperti pin, masing-masing memiliki ukiran, pedang, panah, dan sepasang gambar tangan.”Ini adalah kunci untuk mendapatkan senjata yang kami sebut ‘Weapons Peacekeeper’ itu. Agar senjata itu tidak diambil Giral, kami memutuskan untuk membawanya kesini.”

“Hei, bagaimana bisa aku menjaganya, aku bukan salah satu orang penting di bumi yang harus menjaga benda sepenting ini.” Ryan mengembalikan uluran tangan Astro yang menggenggam kunci itu.

“Kau harus menjaganya, mereka tidak akan menyadari kalau benda itu ada di tangan penduduk sipil, kalau sampai benda ini jatuh ke tangan yang salah, mungkin bukan Cuma Twin Stars saja yang akan hancur, jika Giral sudah selesai dengan planet ku, target planet terdekat selanjutnya yang bisa dihuni adalah Bumi.”Astro menahan tangan Ryan agar mau menerimanya. “Anggap saja ini barang biasa, tapi simpan di tempat paling aman yang kau punya.”

Ryan berkeringat sekarang, meski kamarnya ada AC, sepertinya ia gugup. “aku tidak bisa menjamin ini Astro. Bagaimana aku bisa mempercayai kalau semua ceritamu itu benar.”

“Mungkin jika planetku berhasil dikuasai dia tidak akan langsung ke Bumi, mungkin jika bumi hancur, itu tidak terjadi pada generasimu. Tapi kami membutuhkan ini untuk disembunyikan agar mengurangi kekuatan Giral. Kau tidak ada pilihan lain selain percaya padaku, dan akupun tidak punya pilihan lain selain percaya padamu.”

“kenapa tidak kalian gunakan saja senjata ini untuk melawannya.” Tanya Ryan.

“kami tidak bisa, karena...” Astro berhenti sejenak. “Karena Weapon Peacekeeper hanya bisa digunakan oleh Manusia, senjata itu telah di buat seperti itu.”

“Kalau begitu Giral pun tidak bisa menggunakannya.” Kata Ryan.

“Kau tak mengerti, Giral mungkin akan mengirim anak buahnya untuk mengambil beberapa manusia jahat dibumi, karena sepertinya ia sangat dendam dengan planet kami, aku tidak terlalu banyak tahu apa yang terjadi di masa lalu, tapi dia akan menggunakan berbagai cara untuk menaklukan planet ku, Twin Stars.”

Ryan berfikir sejenak, jika semua yang dikatakan Astro itu benar, tentang Giral dan betapa luasnya angkasa sana bahwa masih banyak kehidupan lain selain di Bumi yang ia tahu. Dengan enggan Ryan mengambil benda itu. “Kupikir, tidak ada ruginya aku menyimpannya sebagai oleh-oleh dari alien yang kutolong, jadi sekarang, meski kelihatannya kau tidak punya mulut, mungkin kau ingin minum setelah bercerita banyak.” Ryan mencoba mencairkan suasana.

“Kami tidak minum, kaum kami hanya menyerap pancaran energi listrik yang ada di sekitar kami, selebihnya, kami tidak makan dan minum. Sepertinya kau harus melihat tagihan listrik mu untuk hari ini.” Astro sudah tenang sekarang. “apakah aku boleh tinggal denganmu sampai pesawat penjemputku datang?”

“Tentu! Tapi jangan sampai kau terlihat orang di luar rumah.”

“Jadi, apakah kita bisa berteman.”

“Tentu. Kita akan menjadi teman, setidaknya mungkin sampai orang-orangmu menjemputmu.”

No comments:

Post a Comment