Bagian
1 : Planet Biru
Post 4
Paginya, sebuah berita memberitakan sebuah Kapsul pesawat tak teridentifikasi oleh polisi jatuh di sebuah kebun warga Verdant City. Ryan di dalam rumahnya yang minimalis bersama ayah dan ibunya mendapat telefon dari kakek dan nenek dari ibu kandung Ryan kalau kebun yang rusak itu adalah rumah kakek Ryan sendiri.
“Kalau begitu sampaikan juga salamku pada mereka. Bagaimana jika nanti malam kita menginap disana sayang?” Tanya Ibu tiri Ryan kepada Ayah Ryan.
Chapter 01 : Pergi dan Jatuh
Paginya, sebuah berita memberitakan sebuah Kapsul pesawat tak teridentifikasi oleh polisi jatuh di sebuah kebun warga Verdant City. Ryan di dalam rumahnya yang minimalis bersama ayah dan ibunya mendapat telefon dari kakek dan nenek dari ibu kandung Ryan kalau kebun yang rusak itu adalah rumah kakek Ryan sendiri.
“Ayah pergi kerja saja,
biar aku yang menjenguk mereka.” Kata Ryan
“Kau yakin?” Ayahnya
balas menjawab.
“Iya aku libur hari ini.
Akan kupastikan mereka baik-baik saja.”
“Kalau begitu sampaikan juga salamku pada mereka. Bagaimana jika nanti malam kita menginap disana sayang?” Tanya Ibu tiri Ryan kepada Ayah Ryan.
“Ya.Baiklah, sampai kan
itu kepada mereka. Kau jaga rumah saja nanti malam, Ryan.” Ayah dan Ibu Ryan
pun pergi berangkat menuju tempat kerja mereka di pusat kota menggunakan mobil
mereka. Dan Ryan menggunakan sepeda gunungnya segera pergi ke tempat dimana
kakek dan neneknya berada.
Pagi itu matahari cerah,
Rumah Kakeknya di kelilingi garis polisi sampai pada halaman kebunnya yang
rusak menuju ke hutan. Lingkungan itu telah disibukkan oleh banyak polisi, lalu
ada beberapa truk yang mengangkut kapsul sebesar ukuran mnobil sedan itu dan
beberapa lagi mengangkut sisa-sisa tanah dan tanaman yang rusak. Tetangga
kakeknya pun banyak yang berdatangan.
Masyarakat melihat dengan penasaran, Ryan
menuju pintu rumah terbuka yang dihadang oleh polisi. Setelah bebrbincang
dengan Polisi penjaga pintu bahwa Ryan adalah cucu dari Kakeknya, Polisi itu
memberikan ia jalan masuk.
Di dalam rumah, kakek dan
neneknya sedang di wawancarai oleh reporter tv setempat dengan beberapa polisi
menggeledah beberapa tempat di rumahnya. Setelah menenunggu setengah jam
lamanya, mereka semua keluar dari rumah menyisakan kedua manula itu bersama
Ryan di ruang keluarga. Ruangann itu terbuat dari kayu pohon dan tidak di cat,
mengeluarkan pemandangan natural dari tembok dan tiangnya yang masih berupa
kayu.
“Kakek dan Nenek tidak
apa-apa?” tanya Ryan. Mereka pun menjawab kalau mereka baik-baik saja dan
segera menceritakan kejadian tadi malam itu kepada Ryan dengan singkat dan
cepat. “Mungkin kalau dilihat dari keadaannya, itu bukan monster nek, itu
terlihat seperti alien yang baru saja datang ke rumah nenek ini, apakah dia
bawa oleh-oleh untuk nenek.” Ryan mencoba mencairkan suasana kakek neneknya
yang sedang ketakutan. Neneknya pun tersenyum.
“Para polisi itu
meyakinkan kalau itu hanya perbuatan orang iseng yang ingin merusak kebun kita.”
Kata Kakeknya penuh harap seperti ia tidak ingin mempercayai kalau itu adalah
makhluk asing.
“Oke. Itu hanya orang
iseng. Oh, Ayah dan Ibu akan mengunjungi kalian setelah mereka pulang kerja,
sepertinya mereka akan menginap disini juga.” Ryan memberitahu mereka. Setelah
itu suasanapun mencair seperti biasanya. Kakeknya pergi keluar melihat kebunnya
dan memimpin pembersihan kebunnya dari para polisi dan petugas kebersihan.
Neneknya pergi ke dapur untuk memasak makan siang.
Malam pun tiba, Ayah dan
Ibu Ryan datang membawa beberapa makanan, setelah makan malam, Ryan pamit untuk
pulang sendiri ke rumahnya sementara mereka menginap disana. Ryan bersepeda
kembali ke rumahnya melewati beberapa gang kecil. Di sekitar daerah yang sudah
sepi dan gelap. Ryan memutuskan untuk memotong jalan melewati jalan kecil
dihutan untuk mempercepat waktu. Jalan itu hanya jalan setapak yang di kelilingi
oleh lampu-lampu kecil seperti lampu taman. Ryan dengan santai mengayuh
sepedanya sampai ia melihat sebuah bayangan melewati nya dari pinggir hutan
yang gelap, sepasang mata menyala berwarna merah memelototinya. Ryan berhenti
memberanikan diri untuk mendekati sumber cahaya yang seperti mata itu karena
penasaran.
“Siapa Disana.” Teriak
Ryan.
“Kau tidak perlu datang
kesini Manusia. Apa kau tidak takut.” Kata suara itu dengan lemah.
“Kau menyebutku manusia,
lalu kau ini siapa?” tanya Ryan sambil mendekatinya pelan-pelan. Cahaya mata
itu bersandar pada sebuah pohon lalu lama kelamaan memudar. Ryan mencoba
mendekati bayangan yang kelihatan makin jelas itu. Makin lama makin terlihat
jelas, sesosok tubuh seperti manusia berkulit metalik dan pakaian berbahan
seperti besi dengan kepala yang tipis. Tatapan matanya kosong, Ryan tidak tahu
harus melakukan apa, jadi dia mengangkat benda itu dan membawanya pulang. Saat
membawanya pulang, lingkungan sudah sepi, jadi Ryan yakin tidak ada orang yang
melihatnya telah membawa makhluk aneh.
Ryan membaringkan makhluk
itu dia atas tempat tidur di kamarnya kemudian menyalakan komputernya, sebenarnya
dia tidak tahu apa yang harus ia lakukan, apakah ia benar membawanya ke rumah
atau membiarkannya di jalanan. Jadi untuk berjaga jaga, Ryan mengikat tangan
dan kaki makhluk itu pada ujung tiang ranjangnya. Untuk sementara Ryan mencari
beberapa sumber tentang adanya makhluk asing di Internet, namun rupanya itu
tidak membantunya, jadi setelah beberapa lama, ia mematikan komputer dan segera
berbaring di lantai kamarnya yang berkarpet, udara terasa dingin, jadi ia
menarik selimut dari kasurnya yang di tiduri makhluk yang asing baginya.
Pagi itu, Ryan bangun dan
melihat mata dari makhluk yang diikat itu bercahaya merah melototinya. Ryan
kaget dengan matanya yang masih baru bangun ia segera menjauh. “Terima kasih
sudah menyelamatkanku, aku kelelahan setelah seharian berjalan, perkenalkan, namaku
Astro dari planet Twin Stars, galaksinya tidak terlalu jauh dari Bima Sakti, tapi
jika kau tidak keberatan, mungkin kau bisa melepaskan tali ini.” Kata Astro.
“Apakah Alien berbahasa
manusia? Bagaimana kau bisa berbahasa seperti di bumi?” sepertinya Ryan
memiliki banyak pertanyaan untuk Astro.
“Sebaiknya sebelum aku
menjawab, kau menyebutkan namamu dulu dan melapaskan tali ini.”
“Aku tidak yakin kalau
kau makhluk yang baik-baik, jadi sebaiknya kau jawab dulu semua pertanyaanku,
ada urusan apa kau di Bumi. Mungkin saja kau ingin merebut planet kami dan
memusnahkan manusia.” Ryan mundur agak jauh dan mengambil sebuah cutter dari
meja belajarnya.
“Apakah aku terlihat
seperti makhluk jahat? Aku kesini hanya untuk misi dari planetku, dan tentu
saja misi itu tidak ada hubungannya dengan menjajah Bumi, jika aku ingin
menjajah pun sebaiknya aku harus membawa sekelompok pasukan besar karena
ternyata planet ini cukup besar bagiku, oh iya, aku memiliki sistem di
pendengaranku untuk menerjemahkan bahasa manusia dan mengeluarkan suara
jawabanku dengan terjemahan yang ingin ku katakan, bangsa kami banyak berhutang
pada kaum manusia. Jadi kalau kau mau aku bercerita sebaiknya potong tali ini,
ini sangat tidak nyaman, bukankah kau membawaku karena kau ingin menolongku.”
“Tidak, tadinya aku ingin
membawamu langsung ke pihak yang berwajib menangani ini, tapi sepertinya kau
tidak berbahaya. Jika kau macam-macam kau akan langsung kubunuh.” Ryan dengan
hati-hati membuka ikatan talinya dengan cutternya. Astro kini memiliki tangan
dan kakinya telah bebas bergerak, dan segera menyenderkan tubuhnya di ranjang.
“Jadi, siapa namamu?”
Astro mengangkat tangan kanannya kepada Ryan.
“Ryan, Adrian Bright.
Panggil saja aku Ryan.” Ryan menjabat tangan Astro dan lalu menurunkan cutter
dan tangannya di kasur dan duduk berhadapan, dengan Astro. “Jadi, kau akan
cerita kenapa kau tiba disini?”
“Sepertinya aku penasaran
dengan kata-katamu tadi yang ingin membunuhku mungkin hanya dengan cutter, aku
membayangkan kalau cutter itu justru yang akan patah ketika menusuk tubuhku.”
Astro kemudian menunjukkan tangannya dan dari jarinnya keluar sebuah pisau
tajam yang kecil dan pendek. Ryan kaget dan mundur pelan-pelan.
“Wow, jadi sepertinya kau
yang mau membunuhku? Kau punya selera humor yang jelek.” Kata Ryan sambil
menggenggam cutternya erat-erat.
“Jadi, kau ingin
mendengarkan ceritaku?”
“Oh, tentu. Kuharap kau
tidak mengejek bangsa manusia sementara kau ada di planetnya.”
Astro tertawa kecil
kemudian memulai ceritanya, “Dulu, di Planet kami, sekelompok manusia datang
dan membawakan kemajuan yang pesat untuk planet kami, dua planet yang berjajar
dalam poros yang sama yang kami sebut keduanya Twin Stars meskipun
masing-masing planet memiliki nama. Manusia membuat suatu sumber daya paling
berharga disana menjadi sebuah senjata mematikan, awalnya, mereka berperang
untuk diri mereka masing-masing sampai ada yang menang dan sang pemenang itu
membuat planet kami terlihat lebih baik.”
“Jadi kau kesini untuk
mengganggu ketentraman manusia untuk balas dendam?”
“Bukan, aku kesini karena
misiku untuk menyelamatkan planet ku, dan juga planetmu. Sekarang di tempatku
sedang berperang antara makhluk pribumi dengan beberapa makhluk dari luar dunia
kami, seorang bertubuh monster yang di sebut bernama Giral, ingin menguasai senjata
yang di buat manusia itu di Planet kami.” Astro menjelaskan.
“Bagaimana bisa ada
manusia datang ke planetmu dulu sementara peradaban kami saja belum bisa
terbang menuju saturnus dengan cepat. Seberapa bahayanya orang atau makhluk
bernama Giral itu.”
“Itu dia, Senjata itu
bisa menghancurkan sebuah planet, karena manusia yang dulu berperang disana
pernah melakukannya, tapi mereka sebenarnya membuatnya untuk menjaga perdamaian
di planet kami. Sampai Giral mendengar kisah itu dan datang ke planet kami
untuk mengambilnya. Dia adalah monster penjajah planet, bahkan kaumnya sendiri
menghancurkan planetnya sendiri karena sudah tidak bisa ditinggali, jadi hidup
mereka berpindah-pindah dari planet lain, dan sekarang, ia sedang menjajah
planetku.”
“Jadi kau datang ke bumi
untuk meminta bantuan manusia di bumi?”
“Mungkin, tapi melihat
kondisi bumi seperti ini pasti belum siap, dan jaminan apa supaya kalian bisa
membantu kami? Bahkan kalian saja sepertinya baru kedatangan satu alien dan itu
adalah aku. Jadi misinya mereka ganti.”
“Ganti? Jadi apa misimu
kesini.” Wajah Ryan terlihat penasaran begitu pula Astro,
“Aku hanya ingin
memintamu untuk menyimpan ini.” Astro mengeluarkan 3 kubus kecil segenggaman
manusia yang tipisnya seperti pin, masing-masing memiliki ukiran, pedang,
panah, dan sepasang gambar tangan.”Ini adalah kunci untuk mendapatkan senjata
yang kami sebut ‘Weapons Peacekeeper’ itu. Agar senjata itu tidak diambil
Giral, kami memutuskan untuk membawanya kesini.”
“Hei, bagaimana bisa aku
menjaganya, aku bukan salah satu orang penting di bumi yang harus menjaga benda
sepenting ini.” Ryan mengembalikan uluran tangan Astro yang menggenggam kunci
itu.
“Kau harus menjaganya,
mereka tidak akan menyadari kalau benda itu ada di tangan penduduk sipil, kalau
sampai benda ini jatuh ke tangan yang salah, mungkin bukan Cuma Twin Stars saja
yang akan hancur, jika Giral sudah selesai dengan planet ku, target planet
terdekat selanjutnya yang bisa dihuni adalah Bumi.”Astro menahan tangan Ryan
agar mau menerimanya. “Anggap saja ini barang biasa, tapi simpan di tempat
paling aman yang kau punya.”
Ryan berkeringat
sekarang, meski kamarnya ada AC, sepertinya ia gugup. “aku tidak bisa menjamin
ini Astro. Bagaimana aku bisa mempercayai kalau semua ceritamu itu benar.”
“Mungkin jika planetku
berhasil dikuasai dia tidak akan langsung ke Bumi, mungkin jika bumi hancur,
itu tidak terjadi pada generasimu. Tapi kami membutuhkan ini untuk
disembunyikan agar mengurangi kekuatan Giral. Kau tidak ada pilihan lain selain
percaya padaku, dan akupun tidak punya pilihan lain selain percaya padamu.”
“kenapa tidak kalian
gunakan saja senjata ini untuk melawannya.” Tanya Ryan.
“kami tidak bisa,
karena...” Astro berhenti sejenak. “Karena Weapon Peacekeeper hanya bisa
digunakan oleh Manusia, senjata itu telah di buat seperti itu.”
“Kalau begitu Giral pun
tidak bisa menggunakannya.” Kata Ryan.
“Kau tak mengerti, Giral
mungkin akan mengirim anak buahnya untuk mengambil beberapa manusia jahat
dibumi, karena sepertinya ia sangat dendam dengan planet kami, aku tidak
terlalu banyak tahu apa yang terjadi di masa lalu, tapi dia akan menggunakan
berbagai cara untuk menaklukan planet ku, Twin Stars.”
Ryan berfikir sejenak,
jika semua yang dikatakan Astro itu benar, tentang Giral dan betapa luasnya
angkasa sana bahwa masih banyak kehidupan lain selain di Bumi yang ia tahu.
Dengan enggan Ryan mengambil benda itu. “Kupikir, tidak ada ruginya aku
menyimpannya sebagai oleh-oleh dari alien yang kutolong, jadi sekarang, meski
kelihatannya kau tidak punya mulut, mungkin kau ingin minum setelah bercerita
banyak.” Ryan mencoba mencairkan suasana.
“Kami tidak minum, kaum
kami hanya menyerap pancaran energi listrik yang ada di sekitar kami,
selebihnya, kami tidak makan dan minum. Sepertinya kau harus melihat tagihan
listrik mu untuk hari ini.” Astro sudah tenang sekarang. “apakah aku boleh
tinggal denganmu sampai pesawat penjemputku datang?”
“Tentu! Tapi jangan
sampai kau terlihat orang di luar rumah.”
“Jadi, apakah kita bisa
berteman.”
“Tentu. Kita akan menjadi
teman, setidaknya mungkin sampai orang-orangmu menjemputmu.”
No comments:
Post a Comment